independennews.id — Sulawesi Barat adalah Tanah Malaqbi Mandar yang Kaya akan Tradisi, Sejarah, dan Peradaban Adat.
Di balik rentang panjang perjalanan bangsa, Masyarakat Adat di wilayah ini telah memainkan peran penting dalam menjaga Harmoni Sosial, Kedaulatan Budaya, dan Keutuhan Nusantara. Salah satu simbol penting dari Peradaban Adat di Tanah Malaqbi Mandar adalah Arajang Binuang Mandar, yang dikenal sebagai Pintu Gerbang Adat dari timur Sulawesi Barat.

Arajang Binuang Mandar dalam Diskursus Sejarah

Arajang Binuang Mandar merupakan Institusi Adat yang berakar dari Sistem Pemerintahan Tradisional di Tanah Malaqbi Mandar. Dengan Sistem Adat Tallu Bate : Ulu Bate, Tangnga Bate, dan Cappa Bate. Arajang Binuang menegaskan “Nilai Kolektifitas, Kebijaksanaan, dan Keseimbangan dalam Tata kelola Masyarakat Adat”. Sistem ini bukan sekadar Perangkat Pemerintahan Tradisional, tetapi juga menjadi Fondasi Moral dalam Mengatur Kehidupan Bermasyarakat yang Berkeadilan.

Sebagai Pintu Gerbang Adat dari Timur, Arajang Binuang Mandar memiliki Posisi Strategis dalam Menghubungkan Pitu Ulunna Salu (Tujuh Kerajaan di Hulu) dan Pitu Ba’bana Binanga (Tujuh Kerajaan di Pesisir). Perannya bukan hanya simbolik, melainkan juga fungsional dalam membangun komunikasi, solidaritas, serta menjaga hubungan antarwilayah di Provinsi Sulawesi Barat.

Relevansi di Era Modern

Di tengah derasnya arus globalisasi, Arajang Binuang Mandar hadir sebagai “Jangkar Kebudayaan yang mengingatkan Masyarakat pada Akar Sejarahnya”. Bukan untuk menutup diri dari modernisasi, tetapi untuk memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan identitas. Pemerintah Pusat dan Daerah dapat menjadikan Arajang Binuang Mandar sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Kebudayaan, Pelestarian Adat, serta Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda.

Sejalan dengan Amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Arajang Binuang Mandar dapat menjadi “Simpul Penguatan Jati Diri Bangsa”.
Pengakuan terhadap peran Masyarakat Adat di Sulawesi Barat akan Memperkuat Sendi-sendi Kebangsaan, sekaligus meneguhkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Harmoni Kebangsaan Berbasis Adat

Arajang Binuang Mandar tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan Kerajaan, Arung dan Tomakaka di Tanah Malaqbi Mandar, baik di wilayah Pitu Ulunna Salu maupun Pitu Ba’bana Binanga. Hubungan ini melahirkan Harmoni yang menempatkan Adat sebagai Ruang Dialog, Musyawarah, dan Penyelesaian masalah dengan cara-cara Damai. Inilah Kearifan Lokal yang sesungguhnya menjadi cermin Pancasila dalam praksis kehidupan masyarakat.

Masyarakat Adat di Tanah Malaqbi Mandar, melalui Arajang Binuang Mandar, telah menunjukkan bahwa Nilai-nilai Kearifan Lokal bukanlah penghalang pembangunan, melainkan pilar yang menguatkan. Dengan demikian, keberadaan Arajang Binuang Mandar harus terus didorong untuk menjadi “Pusat Pembelajaran, Laboratorium Sosial, sekaligus Benteng Moral” bagi Masyarakat Sulawesi Barat.

Rekomendasi Strategis Konkret

Agar peran Arajang Binuang Mandar semakin kuat dan relevan di masa kini dan masa mendatang, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak :

I. Pemerintah Pusat

  1. Memberikan pengakuan formal dan dukungan kebijakan terhadap eksistensi Arajang Binuang Mandar sebagai bagian dari Warisan Budaya Nasional.
  2. Memasukkan Arajang Binuang Mandar ke dalam Program Prioritas Pemajuan Kebudayaan dan Destinasi Wisata Budaya Nasional.
  3. Menyediakan Anggaran khusus melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia untuk Revitalisasi Adat dan Pembangunan Istana Arajang Binuang Mandar XVIII.

II. Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten)

  1. Menginisiasi Pembangunan Istana Arajang Binuang Mandar XVIII sebagai Destinasi Wisata Budaya yang representatif. Oleh karena, Arajang Binuang Mandar terdapat sejumlah benda pusaka, warisan leluhur, serta artefak-artefak Adat yang masih utuh, tersimpan dan dirawat dengan baik di Binuang atau kediaman : PYM. H. Andi Aprasing Lamattulada, SH., MH., Ph.D., selaku Arajang Binuang Mandar XVIII, eksistensinya telah mendapatkan pengakuan resmi dari Pemerintah Desa/Kelurahan, Camat, Bupati, Gubernur hingga Pemerintah Pusat melalui Surat Keterangan Keberadaan (SKK) Dirjen AHU Kemenkumham RI.
  2. Menyusun Kurikulum Muatan Lokal yang mengintegrasikan Sejarah Arajang Binuang Mandar ke dalam Pendidikan Formal di sekolah-sekolah (SD, SMP dan SMA/SMK atau Sekolah yang sederajat).
  3. Mengembangkan event Budaya tahunan seperti Festival Budaya dan Adat Arajang Binuang Mandar yang dapat menarik Wisatawan Lokal, Domestik/Nasional, maupun Internasional.

III. Masyarakat Adat

  1. Menjaga keaslian benda pusaka, naskah kuno, dan artefak leluhur dengan sistem perawatan tradisional maupun modern.
  2. Membentuk Lembaga Adat yang mampu bermitra dengan Pemerintah dalam mengelola Wisata Budaya secara berkelanjutan.
  3. Mentransmisikan Nilai-nilai Adat melalui Pendidikan Informal, Ritual Budaya, serta Keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

IV. Sinergi Pemerintah–Adat–Masyarakat

  1. Mewujudkan Istana Arajang Binuang Mandar sebagai Pusat Peradaban Adat yang tidak hanya berfungsi sebagai Museum Budaya, tetapi juga sebagai Ruang Musyawarah Adat, Pusat Riset Kebudayaan, dan Wahana Edukasi Budaya bagi Publik serta Destinasi Wisata Budaya dan Adat.
  2. Mengoptimalkan teknologi digital untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan memperkenalkan Arajang Binuang Mandar ke dunia global melalui Platform Media Dosial, Oortal Wisata, dan Basis Data Kebudayaan Nasional.

Mengangkat kembali Nilai-nilai Adat Arajang Binuang Mandar sebagai Pintu Gerbang Adat dari Timur Sulawesi Barat adalah langkah Strategis dalam memperkuat Harmoni Kebangsaan. Dengan Pembangunan Istana Arajang Binuang Mandar sebagai Destinasi Wisata Budaya yang representatif, Sulawesi Barat tidak hanya menjaga Identitas Adatnya, tetapi juga Membuka Peluang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Pariwisata Berkelanjutan, dan Pendidikan Budaya yang mendalam bagi Generasi Penerus.

Sulawesi Barat akan semakin Kuat jika Adat, Budaya, dan Pembangunan berjalan beriringan. Arajang Binuang Mandar adalah Simbol sekaligus Gerbang menuju Cita-cita itu : menjadikan Kearifan Lokal sebagai Dasar untuk membangun Peradaban Bangsa yang Berkarakter, Bermartabat, dan Berkeadilan.

Salam Budaya..!
Penulis : YM. Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin