Mamuju, independennews.idWakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, yang lebih dikenal sebagai Ni Luh Puspa, melakukan kunjungan kerja ke Desa Tommo, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kunjungan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya seorang wakil menteri menyambangi desa tersebut sejak berdirinya pada 1983.

Kunjungan ini diawali dengan kedatangan Wamenpar di Bandara Tampa Padang, disambut langsung oleh Bupati Mamuju, Hj. Sitti Sutinah Suhardi, sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Kecamatan Tommo. Setibanya di Desa Tommo, Wamenpar Ni Luh Puspa langsung melaksanakan persembahyangan di Pura Agung Kerta Buana, sebagai bentuk penghormatan atas akar budaya Hindu yang kuat di kawasan tersebut.

Dalam kegiatan yang turut diamankan langsung oleh Kapolsek Tommo, Iptu Rustam Cega, bersama seluruh jajaran personel, Wamenpar melanjutkan agenda simakrama dan dialog bersama umat Hindu serta masyarakat setempat. Kehadirannya disambut antusias oleh warga, yang sebagian besar merupakan keturunan transmigran dari Bali.

Kenangan Masa Kecil yang Mengharukan

Wamenpar Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa kunjungan ini memiliki makna emosional yang mendalam. Ia mengungkapkan bahwa saat bayi berusia tiga bulan, keluarganya ikut program transmigrasi dan ditempatkan di Tobadak. Masa kecilnya banyak dihabiskan di desa tersebut sebelum akhirnya kembali ke Bali pada usia tujuh tahun.

“Ini bukan kali pertama saya hadir di Mamuju, tetapi sebagai Wakil Menteri, ini baru pertama kali. Saya merasa seperti kembali ke masa kecil. Desa Tommo adalah bagian dari sejarah hidup saya,” ungkapnya haru.

Tommo sebagai Miniatur Bali dan Destinasi Budaya

Dalam kunjungan tersebut, Ni Luh Puspa memuji masyarakat Bali di Tommo yang masih menjaga tradisi leluhur dengan kuat. Ia bahkan menyebut bahwa desa ini layak dikembangkan menjadi “Miniatur Bali” di Sulawesi Barat.

“Banyak orang datang ke Bali hanya untuk melihat prosesi seperti Ngaben atau Nyepi. Harapannya, cukup datang ke Desa Tommo, masyarakat bisa merasakan pengalaman yang sama,” ujarnya.

Wamenpar menilai potensi budaya dan keagamaan Hindu di Tommo sangat besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis budaya dan religi. Ia menekankan pentingnya pengemasan atraksi wisata secara menarik agar bisa menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Pariwisata itu seperti makanan, kemasannya harus menarik agar diminati. Kami di Kementerian akan mendukung perlahan-lahan pengembangan potensi wisata di Sulawesi Barat,” tegasnya.

Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

Bupati Mamuju, Hj. Sitti Sutinah Suhardi, menyampaikan rasa bangga atas kunjungan ini dan berkomitmen mendorong penetapan Desa Tommo sebagai desa wisata resmi. Ia menilai dukungan dari kementerian akan sangat membantu percepatan pembangunan infrastruktur dan promosi pariwisata lokal.

“Kami dari Pemkab Mamuju tentu akan mendukung agar Tommo dapat berkembang menjadi daerah wisata sebagaimana cita-cita beliau. Ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga pelestarian budaya,” ujarnya.

Salah satu bentuk dukungan yang disoroti adalah dorongan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan penguatan UMKM lokal, termasuk koperasi berbasis komunitas sebagaimana program prioritas nasional Koperasi Merah Putih di bawah arahan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran.

Harapan ke Depan

Selain pengembangan wisata, Wamenpar juga menaruh perhatian pada edukasi generasi muda terkait pelestarian budaya lokal. Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan desa wisata bergantung pada peran aktif pemuda sebagai pelestari dan penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.

Kunjungan kerja ini ditutup dengan dialog bersama warga, penyerapan aspirasi terkait fasilitas keagamaan, insentif desa, hingga pelatihan SDM pariwisata.

Dengan kunjungan ini, Desa Tommo resmi masuk dalam radar prioritas Kementerian Pariwisata sebagai salah satu calon Desa Wisata Unggulan di Sulawesi Barat. (Usm)

By admin