independennews.id — Di Tanah Malaqbi Mandar, Sejarah dan Kearifan Lokal teranyam dalam Sistem Pemerintahan yang Unik sekaligus Mendalam : Tallu Bate.
Sistem ini bukan sekadar pembagian wilayah, melainkan refleksi filosofi kehidupan Masyarakat Adat Mandar yang menyeimbangkan antara Hulu, Tengah, dan Hilir; antara Adat, Pemerintahan, dan Keberlanjutan Kehidupan Bersama.
Tallu Bate adalah cermin betapa nenek moyang kita telah merumuskan “Tatanan Sosial yang Harmonis” jauh sebelum konsep “Desentralisasi Modern” diperbincangkan.
Ulu Bate: Hulu Sebagai Sumber Kehidupan
Ulu Bate yang berpusat di Mirring adalah wilayah Hulu yang menjadi Penopang Utama Kehidupan. Dipimpin oleh seorang Ma’dika Mirring dengan Jabatan Indo Banua atau Ketua Dewan Adat Tallu Bate, kawasan ini menaungi kampung-kampung yang masing-masing dipimpin Tomakaka, seperti : Katumbangan, Tanete, Amola, Kaleo’, Tandakan, Cendana, Manye-manye, Tappina, hingga Sauran.
Hulu adalah lambang kemurnian dan sumber air kehidupan. Ia menegaskan bahwa setiap aliran kesejahteraan berawal dari “Keteraturan Adat dan Kebijaksanaan” yang ditanamkan di puncak-puncak gunung dan lembah.
Seperti pernah diungkapkan oleh YM. Tomakaka Adaq Jambu, “Mandar tidak mungkin hidup tanpa Hulu yang Dijaga Adat. Sebab dari sanalah mengalir Kesuburan, Rezeki, dan kelangsungan hidup Kita semua.”
Tangnga Bate: Tengah Sebagai Penyangga Kehidupan
Tangnga Bate adalah Jantung Arajang Binuang, sebuah wilayah tengah yang berfungsi sebagai Penyeimbang. Dipimpin oleh seorang Tomakaka dengan Jabatan Indo Banua atau Ketua Dewan Adat Tangnga Bate, wilayah ini menaungi beberapa kampung yang masing-masing dipimpin seorang Tomakaka seperti : Penanian, Biru, To’long, Mammi, Rappoang, Rea, Kanang, hingga Passembaran.
Di sinilah denyut kehidupan bersama terasa paling kuat, sebagai penghubung antara Hulu dan Hilir, antara tradisi dan kebutuhan zaman. Tangnga Bate melambangkan prinsip keseimbangan : Menjaga Adat, Merawat Persaudaraan, sekaligus membuka ruang bagi Kemajuan.
Hal ini sejalan dengan pesan Presiden RI ke-1, Ir. Soekarno yang pernah berkata, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak pernah melupakan Sejarahnya.” Tangnga Bate adalah ingatan kolektif yang terus Meneguhkan Identitas Masyarakat Adat Mandar.
Cappa Bate: Hilir Sebagai Wujud Peradaban
Cappa Bate, wilayah Hilir, dipimpin oleh Tomakaka Dara’ dengan Jabatan Indo Banua atau Ketua Dewan Adat Cappa Bate Dara’. Ia menaungi Tomakaka : Dara’, Jambu, Kiri-kiri, Manding, Sulewatang, hingga Lemo.
Hilir adalah tempat semua Nilai dan Hasil Kerja bersama Bermuara. Dari Hilir inilah interaksi dengan dunia luar terjalin, Perdagangan Berkembang, dan Peradaban Arajang Binuang memperlihatkan wibawanya.
PYM. H. Andi Aprasing La Mattulada, SH., MH., Ph.D., Raja/Arajang Binuang Mandar XVIII, dalam salah satu kesempatan menegaskan :
“Tallu Bate bukan hanya Warisan Leluhur, tetapi Fondasi Kedaulatan Budaya Mandar yang akan terus hidup sepanjang Adat Dijaga dan Kebersamaan Dipelihara.”
Tallu Bate: Sistem Pemerintahan yang Visioner
Jika ditelaah lebih dalam, Tallu Bate bukan sekadar Struktur Adat, melainkan “Sistem Pemerintahan yang Visioner”. Ia memperlihatkan bagaimana nenek moyang Mandar membangun “Distribusi Kekuasaan secara Geografis dan Administratif”, tanpa meninggalkan Akar Budaya dan Musyawarah Adat. Inilah “Demokrasi Lokal” yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap relevan dengan dinamika masa kini.
Sebagaimana diingatkan oleh Presiden RI ke-7, Ir. H. Joko Widodo, “Pembangunan tanpa memandang Akar Budaya hanya akan membuat Bangsa ini rapuh.” Tallu Bate adalah bukti nyata bahwa Pembangunan dan Kebudayaan bisa Berjalan Beriringan, saling memperkuat, bukan saling meniadakan.
Dalam kajian ilmiah, Prof. Christian Pelras, seorang antropolog terkemuka, menyebut bahwa Masyarakat Adat Sulawesi, termasuk Masyarakat Adat di Tanah Malaqbi Mandar, memiliki Sistem Adat yang mampu Menjaga Keseimbangan Sosial. Ia menulis: “Adat bagi orang Sulawesi adalah Jantung Kehidupan Sosial; ia bukan sekadar Aturan, tetapi Landasan Moral yang memastikan Harmoni dalam Masyarakat.” (Pelras, The Bugis, 1996).
Sementara itu, Dr. Nurhayati Rahman, Budayawan dan Peneliti Sulawesi, menekankan bahwa Masyarakat Adat Mandar adalah salah satu etnis yang berhasil Mengintegrasikan Laut dengan Darat dalam Sistem Sosialnya. “Mandar hidup dari Laut, tetapi Adatnya Tertanam di Darat; keseimbangan ini yang membuat Identitasnya bertahan melintasi zaman.” (Rahman N, 2010).
Menjaga Warisan, Menyatukan Masa Depan
Diskursus mengenai Tallu Bate di era Arajang Binuang Mandar XVIII bukanlah romantisme masa lalu. Ia adalah Cermin Peradaban Masa Depan Penuh Harapan yang Cemerlang : Bagaimana Tradisi bisa berjalan berdampingan dengan Modernitas. Seperti air yang mengalir dari Hulu ke Hilir, Kearifan Tallu Bate adalah Penanda bahwa Kehidupan yang Adil, Makmur, dan Bermartabat hanya bisa terwujud ketika Hulu, Tengah, dan Hilir saling terhubung dalam satu kesatuan.
Sebagaimana pesan Nelson Mandela yang relevan bagi semua Bangsa di Dunia, “Kebudayaan adalah Senjata paling Ampuh untuk membangun Perdamaian.” Maka menjaga Tallu Bate adalah Menjaga Perdamaian, Identitas, dan Keberlanjutan Masyarakat Adat Mandar di tengah arus Globalisasi.
Tanah Malaqbi Mandar mengajarkan Kita, bahwa Pemerintahan bukan sekadar soal Kekuasaan, tetapi tentang “Keseimbangan, Kebersamaan, dan Penghormatan terhadap Adat,”. Tallu Bate adalah “Napas” dari Kebesaran itu, yang layak dijaga bersama sebagai bagian dari Identitas Bangsa Indonesia.
Rekomendasi Konkret untuk Pemerintah dan Masyarakat Adat
Agar Tallu Bate tidak berhenti sebagai memori sejarah, tetapi terus hidup dalam Denyut Pembangunan Bangsa.
Berikut beberapa langkah yang patut dipertimbangkan :
- Pengakuan Resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan RI, dapat mengajukan Tallu Bate sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Dengan begitu, ia memperoleh “Legitimasi Formal” sekaligus perlindungan hukum untuk keberlanjutannya; - Integrasi dalam Pembangunan Daerah
Pemerintah Daerah Sulawesi Barat bersama PYM. Arajang Binuang Mandar XVIII, perlu menjadikan prinsip Tallu Bate sebagai Inspirasi dalam Penyusunan Kebijakan Pembangunan, terutama yang menyangkut Tata Ruang, Pelestarian Lingkungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Adat; - Pendidikan dan Kurikulum Lokal
Tallu Bate dapat diintegrasikan dalam “Muatan Lokal Pendidikan Dasar dan Menengah, agar Generasi Muda Mandar tidak tercerabut dari Akar Budayanya. Hal ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang menekankan pentingnya Kearifan Lokal. Termasuk dengan pemahaman dasar “Koding dan AI” demi pembelajaran yang lebih Relevan, Adaptif dan Bermakna : “Deep Learning” terhadap semua warga masyarakat setempat. “Deep Learning juga merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan materi yang lebih sempit”. Semua ini, harus dimaknai sebagai upaya menciptakan manusia Indonesia yang tidak hanya Cerdas secara Akademik, tetapi juga Tangguh secara Karakter, dan Sadar akan Jati Diri Budayanya; - Festival dan Diplomasi Budaya
Mengadakan Festival Tallu Bate secara berkala akan memperkuat Identitas Budaya Mandar sekaligus menjadi Daya Tarik Wisata Budaya. Lebih jauh, Tallu Bate bisa menjadi Instrumen Diplomasi Budaya yang menghubungkan Mandar dengan Masyarakat Adat lain di seluruh pelosok Nusantara; - Kolaborasi Akademik dan Penelitian
Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Lembaga Adat perlu Mendorong “Riset Komprehensif” tentang Tallu Bate, baik dalam bidang Sejarah, Antropologi, maupun Hukum Adat. Hasil riset ini dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan Berbasis Adat.
Dengan demikian, Tallu Bate tidak hanya hadir sebagai kisah lampau yang agung, tetapi juga sebagai “Kompas Moral dan Sosial” bagi Pembangunan Mandar di masa kini dan mendatang. Sebuah warisan yang tidak hanya patut dikenang, tetapi juga Wajib Dijaga, Dihidupkan, dan Diwariskan.
Penulis : YM. Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
