Oleh : Sjahrir Tamsi
Di tengah arus deras globalisasi, modernisasi, dan transformasi digital yang masif, bangsa Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga identitas budaya, keberagaman, dan jati diri generasi mudanya. Dalam konteks inilah, gagasan Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi terobosan penting yang layak diapresiasi dan diperkuat implementasinya.
Sekolah Rakyat bukan sekadar infrastruktur pendidikan baru, tetapi sebuah “Paradigma Revolusioner” yang membangun pendidikan dari “Akar Budaya Tradisional dan Kearifan Lokal. Ia hadir bukan hanya sebagai solusi teknis bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, tetapi sebagai manifestasi keadilan kultural dan pendidikan yang membumi.
Menghidupkan Pendidikan Kontekstual yang Relevan dan Bermakna
Pendidikan sejatinya adalah jembatan antara pengetahuan dan realitas kehidupan. Dalam pendekatan Sekolah Rakyat, pendidikan tidak dipaksa menjadi seragam dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote, melainkan tumbuh dari akar sosial dan budaya di setiap daerah.
Sistem ini memberikan ruang luas bagi Guru, Tokoh Adat, dan Masyarakat untuk mengintegrasikan “Nilai-nilai Lokal, Bahasa Ibu, Sistem Sosial, serta Seni dan Tradisi ke dalam kurikulum pembelajaran. Anak-anak di Mandar, Bugis, Bali, Papua, hingga Minangkabau tidak harus belajar dengan metode yang sama, sebab Budaya Membentuk Pola Pikir, cara Belajar, dan Nilai-nilai Hidup yang Berbeda.
Seni dan Tradisi sebagai Media Pendidikan yang Efektif
Salah satu kekuatan Sekolah Rakyat adalah penggunaan “Seni, Adat, dan Praktik Kebudayaan sebagai instrumen pendidikan. Di Bali, siswa belajar matematika melalui pola anyaman; di Nusa Tenggara Timur, pelajaran kewarganegaraan dikaitkan dengan nilai gotong royong dalam tradisi “sauk” dan “sambut”. Ini bukan hanya pendekatan kreatif, tetapi juga membangun kebanggaan identitas dan rasa memiliki terhadap warisan budaya sendiri.
Melalui pendekatan ini, pendidikan menjadi lebih manusiawi, lebih dekat dengan realitas, dan lebih mudah dipahami oleh anak-anak karena berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri.
Pendidikan Karakter yang Berakar pada Budaya
Pembangunan karakter dalam Sekolah Rakyat tidak didikte dari atas dengan nilai-nilai seragam, tetapi tumbuh alami dari kebiasaan dan nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat. Di Mandar, nilai Sibaliparriq menjadi dasar membangun semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Di Minangkabau, karakter religius dan kesopanan dibentuk lewat filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Di Bugis, nilai Siri’ na Pacce menanamkan rasa malu, kehormatan, dan solidaritas sosial.
Inilah pendidikan karakter yang otentik tidak sekadar teori, tetapi praktik nyata yang membentuk kepribadian luhur secara kontekstual dan konsisten.
Sekolah Rakyat : Menjawab Tantangan Globalisasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Kecanggihan teknologi, AI, dan informasi global bukan alasan untuk kehilangan akar budaya. Sekolah Rakyat justru hadir untuk menjawab tantangan ini dengan “Mengintegrasikan Teknologi dan Global Competence tanpa melupakan Identitas Lokal. Anak-anak boleh belajar coding dan berbicara dalam bahasa Inggris atau Arab, tapi tetap harus bangga menari Tor-Tor, melantunkan Pantun Melayu, Massayang-sayang, menyulam songket, membatik, dan Menjaga Adat Istiadat.
Dengan kata lain, Sekolah Rakyat membentuk siswa yang “Cerdas Global tetapi Kokoh Lokal Generasi Pembelajar Seumur Hidup” yang tahu arah langkahnya dan tidak tercerabut dari akarnya.
Pendidikan Inklusif, Berkeadilan, dan Membangun Kebhinekaan
Salah satu keunggulan utama Sekolah Rakyat adalah pendekatannya yang “Inklusif dan Mengakui Keragaman”. Sekolah ini memberi ruang partisipasi kepada Masyarakat Adat, Tokoh Lintas Agama, Seniman Lokal, dan Ormas Kepemudaan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Inilah bentuk “Pendidikan Sibaliparriq” (Gotong royong) yang menghidupkan kembali peran komunitas dalam mendidik anak bangsa.
Lebih dari itu, pendekatan ini sekaligus menjadi “Penawar” terhadap homogenisasi pendidikan nasional yang selama ini kerap mengabaikan konteks sosial-budaya lokal.
Kesimpulan : Membangun Pendidikan yang Tak Mudah Terhempas
Sekolah Rakyat adalah simbol harapan baru. Sebuah ikhtiar untuk membangun sistem pendidikan yang “Berakar Kuat, Berpijak pada Realitas, dan Menjulang menuju Kemajuan Zaman”. Pendidikan seperti ini tidak mudah tergoyahkan oleh badai globalisasi karena ia tumbuh dari nilai-nilai yang telah teruji oleh waktu.
Kita memerlukan lebih banyak Sekolah Rakyat, tidak hanya secara fisik, tetapi sebagai “Gerakan Kesadaran Nasional” bahwa pendidikan bukan sekadar angka dan ijazah, melainkan “proses membentuk manusia utuh, yang tahu siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan untuk apa ia belajar”.
Jika ingin membangun masa depan Indonesia yang kuat dan berdaulat, maka jawabannya adalah : “mulailah dari pendidikan yang membumi, bermakna, dan berpihak kepada akar budaya bangsa”. Itulah wajah sejati dari Sekolah Rakyat.
Tentang Penulis :
“Sjahrir Tamsi adalah Purnabakti ASN-PNS Guru/Kepala Sekolah/Pengawas, Penulis, dan Pemerhati Pendidikan asal Kampung Dara’ Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Aktif menyuarakan nilai-nilai Pendidikan Karakter, Kebangsaan, Budaya dan Kearifan Lokal yang Konsisten mendorong Transformasi Pendidikan berbasis Budaya dan Inklusivitas. Cadangan Sishankamrata yang saat ini menjabat sebagai Manajer LSP-P3 Sektor MPI berlisensi BNSP RI dan Pengurus DPW MES Provinsi Sulawesi Barat”.
