Oleh : Sjahrir Tamsi
Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum “Reflektif dan Strategis” untuk menegaskan kembali komitmen negara terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak. Tahun 2025, peringatan ini mengusung tema inspiratif : “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema ini tidak sekadar slogan, melainkan seruan serius untuk mengawal anak-anak Indonesia menjadi “Generasi Emas yang Tangguh, Cerdas, dan Berkarakter.
Namun pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan “Anak Hebat” dalam konteks Indonesia hari ini yang penuh tantangan multidimensi? Jawabannya tidak lain adalah dengan “Memperkuat Pendidikan Karakter dan Menanamkan Kecintaan terhadap Seni Budaya sejak Usia Dini”. Dua fondasi ini menjadi benteng moral dan jati diri bangsa dalam menghadapi era disrupsi global dan derasnya arus informasi yang seringkali tak ramah anak.
Pendidikan Karakter : Pilar Anak Hebat

Dalam dunia pendidikan, karakter bukan sekadar tambahan pelajaran, melainkan inti dari proses pembelajaran itu sendiri. Anak yang hebat bukan hanya yang unggul secara kognitif, tetapi juga yang memiliki : Integritas, Empati, Kejujuran, Tanggung Jawab, dan Semangat Gotong Royong. Nilai-nilai ini tidak bisa ditanam dalam semalam, tetapi harus dibentuk melalui Pengalaman nyata, Keteladanan orang dewasa, dan Lingkungan yang suportif.
Pendidikan Karakter tidak harus eksklusif di ruang kelas. Ia bisa hadir dalam interaksi sehari-hari di rumah, dalam kegiatan ekstrakurikuler, dalam cerita-cerita lokal yang sarat makna, bahkan dalam permainan tradisional yang mengajarkan sportivitas dan solidaritas.
Seni Budaya : Penjaga Identitas dan Jiwa Bangsa

Seni dan Budaya adalah bahasa hati anak-anak. Melalui seni musik, tari, teater, lukisan, hingga cerita rakyat, anak belajar mengenal jati dirinya sebagai bagian dari bangsa besar yang “Kaya Warisan”. Sayangnya, di tengah gempuran budaya populer global, seni dan budaya lokal kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Sudah saatnya kita mengembalikan “Seni Budaya” sebagai media pembelajaran yang “Menyenangkan dan Mendidik”. Mengenalkan anak pada “Tarian Daerah, Lagu Nusantara, Dongeng Lokal, dan Kearifan Budaya Lokal” merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi karakter dan kebanggaan nasional mereka. Anak yang mencintai budayanya akan tumbuh dengan rasa percaya diri, memiliki akar, dan tidak mudah terombang-ambing dalam budaya konsumtif yang nihil nilai.
Tanggung Jawab Bersama

Mewujudkan generasi emas tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Diperlukan sinergi antara “Keluarga, Masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Dunia Usaha. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah membuka ruang partisipasi dalam peringatan “HAN” 2025 melalui kegiatan kreatif dan edukatif. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa semangat “HAN” tidak hanya dirayakan setahun sekali, melainkan menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Orangtua harus menjadi Guru pertama dan utama yang menanamkan nilai karakter dan mengenalkan budaya lokal di rumah. Sekolah harus menjadi “Taman Belajar yang Ramah Anak, Menggembirakan, dan memfasilitasi Bakat Seni serta Budi Pekerti”. Media dan Industri Hiburan perlu turut ambil bagian dengan menghadirkan konten positif, edukatif, dan mengangkat “Kebudayaan Nasional.
Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita kolektif yang hanya bisa dicapai bila anak-anak hari ini tumbuh sebagai generasi yang “Sehat, Cerdas, Kreatif, Berkarakter, dan Mencintai Tanah Airnya. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa “Masa Depan Bangsa ada dalam Dekapan Tangan Mungil Anak-Snak Kita saat ini.
Mereka adalah anak-anak hebat yang akan menjadi “Pemimpin Masa Depan. Tapi mereka tidak bisa hebat dengan sendirinya. Kita, para orang dewasa, bertanggung jawab untuk menyediakan ruang, waktu, kasih sayang, serta pendidikan yang menyeluruh—baik karakter maupun budaya.
Mari kita jadikan Hari Anak Nasional 2025 sebagai pengingat bahwa membangun anak-anak hebat hari ini adalah “Fondasi bagi Indonesia yang Kuat esok hari. Bersama anak-anak hebat, mari kita kuatkan langkah menuju Indonesia Emas 2045.
Tentang Penulis :
Sjahrir Tamsi adalah Alumni Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-IKIP Ujung Pandang, Angkatan 1983. Pernah menjadi Pendidik (Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas), kini Penulis, Tokoh Pendidikan dan Tokoh Adat dari Sulawesi Barat. Aktif menyuarakan nilai-nilai Pendidikan Karakter, Inklusivitas, serta Transformasi Pendidikan yang berbasis Seni Budaya dan Kearifan Lokal. Konsisten memperjuangkan Pendidikan Bermutu untuk semua Lapisan Masyarakat.
