Penulis : YM. Sjahrir Tamsi

Seri 1 : Pertemuan di Lounge Privat

Di lantai tertinggi Apartemen Rewa Ta’a Residence Pamboang Majene, tersembunyi sebuah “Lounge Privat” dengan desain kontemporer dan sentuhan klasik Mandar. Ruang itu hanya bisa diakses dengan kartu khusus, tempat yang sunyi dari hiruk pikuk dunia luar, seolah dunia berhenti sejenak di dalamnya.

YM. Pangeran Arya, pewaris tahta dari salah satu kerajaan terbesar di tanah Mandar, duduk santai mengenakan kemeja linen putih. Pandangannya menerobos jendela kaca ke arah laut jauh di balik gedung-gedung.

YM. Putri Hikma, perempuan berpendidikan tinggi yang baru saja pulang menyelesaikan pendidikannya “Pasca Sarjana” dari salah satu perguruan ternama di kota Makassar, hadir dengan kebijaksanaan dan pesona yang memikat. Mereka tidak sedang membahas kerajaan atau pesta bangsawan. Mereka bicara tentang perubahan, keadilan sosial, dan cinta.

Seri 2 : Ruang, Rasa, dan Rahasia

“Lucu ya,” kata Hikma, menyeruput teh melati hangat, “dunia luar penuh hiruk-pikuk, tapi di lounge privat ini, semuanya terasa hening dan jujur.”

“Karena hanya di ruang seperti inilah kita bisa menjadi diri sendiri,” sahut Arya. “Tanpa gelar, tanpa tekanan, tanpa kamera politik.”

Privasi bukan sekadar kesendirian, tetapi kemewahan untuk bicara tanpa takut disalahpahami. Lounge privat itu menjadi tempat aman untuk dua insan muda yang dipertemukan bukan oleh garis takdir, tapi oleh misi hidup yang sejalan.

Seri 3 : Cinta di Balik Jendela Kaca

Hari-hari di lounge privat jadi momen-momen yang dirindukan. Terkadang mereka berdiskusi tentang literasi di pedalaman Mandar. Terkadang hanya diam, menikmati musik klasik yang mengalun perlahan.

Suatu malam, hujan turun membasahi kota.

“Apakah kamu takut jatuh cinta pada orang seperti aku, Hikma?” tanya Arya.

Hikma menatapnya dengan mata teduh. “Yang kutakuti bukan cinta, Arya. Tapi jika cinta itu membuatku melupakan tujuan hidupku. Namun bersamamu… justru aku makin yakin untuk melangkah.”

Dan sejak saat itu, cinta mereka tak hanya membahana, tapi juga membentuk arah masa depan bersama.

Seri 4 : Janji di Tengah Kemewahan

Di lounge privat yang sama, sebulan setelah pertunangan mereka diumumkan, Arya menatap Hikma dengan haru.

“Aku tidak akan jadikan kemewahan ini tempat bersembunyi dari realitas. Justru dari sinilah kita mulai membangun masa depan rakyat kita.”

Hikma mengangguk. “Cinta bukan sekadar perasaan… tapi keberanian untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Bersama.”

Seri 5 : Lounge Privat yang Menjadi Simbol

Kini lounge privat itu bukan sekadar ruang eksklusif. Di tangan Arya dan Hikma, ruang itu berubah menjadi ruang ide, tempat bertemunya pemikir muda, aktivis, dan pemimpin adat. Mereka berdiskusi tentang reformasi pendidikan, teknologi hijau, dan masa depan Sulawesi Barat.

Cinta mereka menjadi api membara, tapi tak membakar. Menghangatkan, tapi tetap memelihara.

Seri 6 : Kembali ke Tanah Mandar

Arya dan Hikma memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk merancang program pendidikan berbasis adat. Mereka disambut hangat oleh Tokoh Adat dan masyarakat yang sudah lama menantikan perubahan.

Hikma membangun “Pusat Belajar Perempuan Sibaliparri,” sementara Arya membuka “Forum Adat Digital Mandar.” Mereka berjalan dari dusun ke dusun, membangun kesadaran akan pentingnya literasi dan teknologi tanpa menanggalkan nilai budaya.

Seri 7 : Restu Leluhur dan Perjuangan Bersama

Dalam upacara adat yang sakral, Arya dan Hikma diberi gelar kehormatan sebagai Duta Budaya dan Pendidikan Mandar. Mereka menandatangani komitmen bersama Tokoh Adat dan Pemuda lokal untuk menjaga nilai lokal dalam arus globalisasi.

Di rumah adat tempat upacara berlangsung, Hikma berbisik, “Leluhur kita tidak hanya ingin dikenang, tapi dihidupkan kembali dalam tindakan.”

Arya mengecup tangannya, “Dan kita adalah penjaga cahaya itu.”

Seri 8 : Pernikahan dalam Nuansa Mandar Modern

Pernikahan Arya dan Hikma dilangsungkan di tanah kelahiran mereka, dengan kombinasi adat dan inovasi. Upacara berlangsung khidmat di rumah adat “Boyang Kayyang” dilanjutkan dengan pesta rakyat terbuka yang memadukan kuliner lokal dan penampilan seni kontemporer.

Akad Nikah

YM. Putri Hikma menerima YM. Pangeran Arya melalui ikatan janji suci yang disyariatkan Agama Islam di hadapan Puang Kali (Kali Adaq) atau Perwalian yang diserahkan oleh orang tua Hikma kepada Penghulu KUA setempat di era Teranyar ini.

YM. Pangeran Arya, s.ang Pengantin Baru tampil elegan dengan pakaian Adat dan Budaya Orang Mandar, warna “Hijau lengkap dengan Perhiasan Emas,” sebagai simbol kebangsawan bagi orang Mandar.

Pesta Resepsi

Hikma tampil anggun dan mempesona dengan busana adat bertabur tenunan khas dengan warna burgundy yang lagi trendy.

Sementara Arya tampil elegan dengan kharisma bangsawan mengenakan Sigar Adat Mandar, adalah sejenis destar atau ikat kepala tradisional yang dikenakan oleh pria Suku Mandar, Sulawesi Barat. Sigar terbuat dari kain tenun khas Mandar yang disebut Lipa Sa’be asli, dengan motif-motif tradisional yang kaya makna.

Sigar ini bukan hanya sekadar penutup kepala, tetapi juga “Mahkota” yang memiliki makna simbolis sebagai lambang kehormatan dan identitas budaya. 

Sigar juga melambangkan harga diri, martabat, dan kearifan lokal masyarakat Mandar yang digunakan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, upacara adat, dan penyambutan tamu kehormatan.

Mereka menyatukan cinta di hadapan masyarakat, bukan sebagai pangeran dan putri, tapi sebagai sepasang pemimpin muda yang ingin mengabdi di tengah masyarakat.

Epilog : Kappung Lounge, Ruang Cinta dan Harapan

Tahun-tahun berlalu. Lounge Privat kini dikenal dengan nama Kappung Lounge, ruang pertemuan, dialog lintas budaya, dan laboratorium ide-ide untuk Mandar yang lebih maju dan sejahtera. Arya dan Hikma tinggal di rumah yang tak jauh dari pantai, di mana mereka tetap membangun karya bersama.

Mereka menulis buku bersama, menjadi pembicara internasional, dan menginspirasi generasi muda Mandar untuk berani bermimpi tanpa melupakan akar budayanya.

“Di balik tembok kaca lounge privat yang tenang, dua hati menemukan jalan untuk saling mencintai tanpa kehilangan misi, tanpa melupakan asal usul.”

Dan dari cinta itulah, peradaban baru dimulai.

Polewali Mandar, Juli 2025.
Editor : Usman Laica.

By admin