Jakarta, independennews.id – Dalam era di mana opini sering kali menjadi senjata utama dalam perdebatan daring maupun luring, muncul satu peringatan halus namun tegas: merasa paling benar bukanlah tanda kecerdasan, melainkan bentuk kebodohan yang tersembunyi di balik keangkuhan intelektual.
Pernyataan ini bukan sekadar sindiran, tetapi refleksi tajam terhadap fenomena yang kian marak—mereka yang menutup telinga terhadap kritik namun lantang dalam meremehkan pandangan orang lain. Padahal, menurut pandangan banyak tokoh pendidikan dan pengamat sosial, kepercayaan diri dan arogansi intelektual adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Ilmu yang sejati melahirkan kerendahan hati, bukan mimbar untuk menertawakan orang lain,” kata seorang pengamat komunikasi publik. Ia menambahkan, mereka yang benar-benar cerdas justru terbuka terhadap sudut pandang berbeda, meskipun tidak selalu setuju.
Di tengah derasnya arus informasi, penting untuk membedakan antara ingin menang debat dan ingin memahami. “Kalau yang dikejar hanya kemenangan dalam argumen, bukan pemahaman, maka sesungguhnya kita sedang belajar menjadi egois, bukan bijak,” lanjutnya.
Fenomena “kekaguman terhadap opini sendiri” dinilai sebagai jebakan yang membuat seseorang berkutat dalam ruang sempit pikirannya sendiri. Bahkan, dalam jangka panjang, sikap ini bisa membuat individu dijauhi oleh lingkungan sosial dan intelektualnya.
Kesombongan intelektual, demikian disebut, adalah bentuk kebodohan terselubung. Karena kebijaksanaan sejati mengakui bahwa setiap orang datang dengan latar belakang, sudut pandang, dan alasan yang berbeda. Oleh karena itu, mendengarkan bukanlah tanda kelemahan, tetapi indikasi kecerdasan emosional dan intelektual yang matang.
Di tengah polarisasi yang makin tajam dalam berbagai ruang diskusi, pesan ini menjadi pengingat penting: menjadi benar bukan berarti menutup ruang dialog, dan menjadi bijak berarti mampu mendengar tanpa harus selalu menghakimi.
