Lombok, independennews.id Sosok Abdul Haris Agam, atau yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani, tengah menjadi sorotan publik setelah perannya yang krusial dalam proses evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana de Souza Pereira Marins (27), yang terjatuh ke jurang sedalam sekitar 600 meter di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.

Agam merupakan pemandu lokal yang pertama kali menyadari hilangnya Juliana pada 21 Juni 2025. Tanpa menunggu waktu, ia segera memimpin pencarian awal, menghubungi petugas Taman Nasional Gunung Rinjani, serta mengoordinasi penggunaan drone pencarian dan pertolongan (SAR). Berkat inisiatif dan kepemimpinannya, proses evakuasi dapat berjalan lebih cepat dan efisien di medan yang terkenal ekstrem.

Lahir pada 22 Desember 1988, Agam dibesarkan di lingkungan keras Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Kota Makassar. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup mandiri, tumbuh dalam keterbatasan, namun tetap bertekad membangun masa depan yang lebih baik.

Dulu dikenal dengan julukan “Ucok”, ia kemudian mengganti namanya menjadi Agam sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah yang telah wafat. Kini, Agam dikenal luas sebagai pemandu wisata gunung yang andal, terutama di jalur Rinjani. Keahliannya dalam navigasi medan berat, pengelolaan logistik, serta pendekatannya yang mengedepankan keamanan dan tanggung jawab lingkungan membuatnya dihormati di kalangan pendaki dan penggiat alam terbuka.

Atas dedikasinya, banyak pihak kini memberikan apresiasi kepada Agam. Ia dianggap bukan hanya sebagai pemandu wisata, tetapi juga sosok panutan yang menunjukkan bahwa keberanian, kepedulian, dan profesionalisme tetap tumbuh kuat di tengah keterbatasan.

Tragedi yang menimpa Juliana Marins menjadi pengingat akan bahaya menjelajah alam bebas tanpa persiapan yang memadai, namun juga menjadi panggung bagi figur-figur seperti Agam yang berdiri di garda terdepan demi keselamatan sesama. (US)

By admin