Jambi, independennews.id — Auditorium UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menjadi saksi momen bersejarah yang sarat makna dan inspirasi. Prof. Iskandar Nazari, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi Pendidikan. Siapa sangka, pria yang pernah berstatus honorer dengan honorarium “ditumpangkan” pada SK Satpam kampus, kini berdiri tegak sebagai salah satu akademisi terkemuka Indonesia.
Lahir di Desa Ujung Pasir, Kerinci, 24 Desember 1975, dari keluarga sederhana, Iskandar tumbuh dalam keterbatasan. Ayahnya, H. Nazari Syarif (Alm), adalah guru SD yang tidak menamatkan kuliah, sementara ibunya, Hj. Juarah, tak lulus sekolah dasar. Namun dari kedua orangtuanya, ia mewarisi nilai paling luhur: kecintaan terhadap ilmu dan kekuatan doa.
Sejak kecil, Iskandar terbiasa bekerja keras. Sepulang sekolah membantu orang tua di sawah, berjualan ayam dan sapi, hingga belajar di madrasah dan mengaji di surau setiap malam. Selepas meraih gelar S1 di IAIN STS Jambi pada 1998, ia sempat bercita-cita menjadi perwira TNI. Meski sempat lolos hingga tahap akhir seleksi Akmil, mimpinya kandas karena batas usia.
Tak menyerah, ia menjalani hidup sebagai sopir pickup, penjual tanah, dan pengangkut barang di pasar. Namun tekadnya kembali menyala saat menyaksikan kakaknya diwisuda S2 di Universitas Negeri Padang. Ia pun melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia, dengan perjuangan bekerja malam di SPBU Petronas untuk membiayai hidup dan kuliah.
Sepulang dari Malaysia pada 2008, Iskandar sempat menganggur hingga akhirnya diterima sebagai staf ahli Rektor IAIN STS Jambi. Karena kendala administratif, honorariumnya pun ditumpangkan pada SK Satpam. Tapi bagi Iskandar, jabatan bukanlah ukuran nilai diri.
“Ilmu bukan soal posisi, tapi soal berkah. Saya belajar untuk tidak merasa hina pada jalan hidup yang Tuhan tetapkan,” ungkapnya dalam orasi pengukuhan.
Dalam kesunyian malam, selepas salat tahajud, ia melahirkan gagasan besar: Ruhiologi. Konsep ini menyatukan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), hingga kecerdasan buatan (AI) dalam satu fondasi: kecerdasan ruhani (RQ). Ruhiologi kini menjadi model pendidikan yang diterapkan di Lembaga Pendidikan Islam Modern Diniyyah Al Azhar Jambi, dari PAUD hingga perguruan tinggi.
Sejak lulus CPNS pada 2009, Prof. Iskandar menjabat berbagai posisi penting seperti Ketua LPM, Kepala SPI, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, hingga Direktur Quality Assurance Diniyyah Al Azhar. Ia juga mendirikan Ruhiology Quotient Institute dan aktif di organisasi sosial sebagai Wakil Ketua LAZISNU PWNU Provinsi Jambi.
Karya-karyanya meliputi:
Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Psikologi Salat Menghadapi Stres Abad 21 Desain Pembelajaran Berbasis TIK Psikologi Pendidikan Menghadapi Pembelajaran Abad 21 Ciber Smart Campus: Cakap Digital dan Aman Ciber
Didampingi istri tercinta Denny Defrianti, S.Sos., M.Pd., dan putri mereka, Shanum Azzahra Faizah, dukungan keluarga besar menjadi kekuatan ruhani dalam perjalanannya. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada para tokoh yang membimbing karier akademiknya, termasuk Prof. Mukhtar, Prof. Matinis Yamin, Prof. Hadri Hasan, Prof. Su’adi, Prof. As’ad, dan Prof. Kasful Bahri.
Gagasan Ruhiologi telah mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional:
Prof. H. Fasli Jalal: “Ruhiologi akan menjadi basis baru pendidikan Islam di Indonesia.” Prof. Amin Abdullah: “Di tengah krisis pendidikan, Ruhiologi memberi arah baru pengembangan pendidikan Islam.” Prof. Imam Suprayogo: “Ruhiologi adalah lompatan dari neurologi menuju ruhani.”
Prof. Iskandar menutup orasinya dengan sebuah pantun sarat makna:
Angin pagi menari di taman,
Burung berkicau saling menyapa.
Tanpa ruh, ilmu bisa menyimpang,
Dengan ruh, kecerdasan jadi amanah yang nyata.
Kini, dari pelosok Kerinci, lahir gagasan yang mengguncang dunia akademik. Prof. Iskandar Nazari tak hanya menjemput mimpinya, tapi juga menghidupkan kembali ruh pendidikan sejati.
