Jakarta, independennews.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Tes Kompetensi Anak (TKA) yang akan dilaksanakan pada November 2025 untuk SMA/SMK dan Maret 2026 untuk SD dan SMP, bersifat pilihan dan tidak wajib diikuti oleh murid. Tes ini, menurutnya, juga tidak akan menjadi penentu kelulusan bagi siswa yang mengikuti ujian tersebut.
Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa meskipun TKA tidak wajib, siswa yang memilih untuk mengikuti tes ini akan mendapatkan manfaat tambahan. Khususnya untuk murid kelas 12 SMA, TKA akan dijadikan salah satu penilaian untuk jalur prestasi dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sementara itu, bagi murid kelas 6 SD dan kelas 9 SMP, nilai TKA akan menjadi salah satu pertimbangan dalam Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) jalur prestasi.
“TKA ini bersifat pilihan. Murid boleh ikut atau tidak ikut, dan yang terpenting, TKA tidak menjadi penentu kelulusan Murid,” ujar Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam acara taklimat media di Kantor Kemendikdasmen, Senin 03/03/2025.
Meski demikian, Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa meskipun hasil TKA memberikan keuntungan dalam hal jalur prestasi, pengaruhnya tidak akan berlaku pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Tahun Pelajaran 2025/2026 ini. Oleh karena itu, ia berharap masyarakat dan pihak sekolah tidak khawatir berlebihan mengenai tes ini.
Pernyataan ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa TKA tidak akan menjadi beban tambahan bagi murid. Meskipun dapat memberikan nilai lebih untuk mereka yang mengikutinya, tetap tidak ada kewajiban untuk mengambil tes tersebut.
Mendikdasmen mengimbau agar pihak sekolah dan orang tua memberikan pemahaman yang tepat kepada siswa agar tidak terjadi tekanan atau pemaksaan dalam pelaksanaan TKA.
“Ke depannya, TKA akan menjadi bagian dari penilaian prestasi bagi siswa, memberikan kesempatan lebih bagi mereka yang ingin menunjukkan kemampuan akademis mereka melalui jalur prestasi, tanpa menjadikannya sebagai satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan,” kunci Abdul Mu’ti. (Usman)
