Oleh : YM. Sjahrir Tamsi

Artikel ini membahas hakikat rasa malu sebagai bagian dari iman, beserta landasan dari Al-Qur’an dan hadits.
Rasa malu merupakan salah satu karakter mulia yang diajarkan dalam Islam. Malu, atau yang dalam bahasa Arab disebut “al-hayaa”, adalah perasaan yang timbul dari hati ketika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk, baik di hadapan Allah SWT maupun di hadapan sesama manusia. Malu merupakan ciri khas seorang mukmin dan menunjukkan kemuliaan akhlak seseorang. Dalam ajaran Islam, malu adalah bagian daripada iman.
Malu merupakan sifat atau perasaan yang membentengi dalam melakukan tindakan yang dinilai kurang sopan.

Syaikh Muhammad Hassan melalui buku Hak-hak yang Wajib diketahui dalam Islam mengemukakan bahwa rasa malu sudah dititahkan oleh Allah SWT kepada seseorang. Sebagai contoh, malunya lelaki atau perempuan ketika membuka aurat di depan banyak orang.
Hal tersebut menjadi rasa malu yang sifatnya naluriah. Bahkan, malu merupakan rasa yang dimiliki oleh Nabi Adam AS dan Siti Hawa usai memakan buah dari pohon terlarang di surga. Allah berfirman dalam surat Thaha ayat 121:
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ
Artinya : Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah Ia.”

Landasan Hadits tentang Malu Sebagai Bagian dari Iman.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda : “Iman itu ada lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”
(HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).
Hadits ini menegaskan bahwa rasa malu adalah salah satu bagian dari iman. Dengan kata lain, iman seseorang tidak akan sempurna jika ia tidak memiliki rasa malu. Rasa malu dalam konteks ini bukan hanya sebatas malu di hadapan manusia, tetapi juga perasaan malu terhadap Allah SWT jika melakukan perbuatan yang dilarang atau tidak sesuai dengan ajaran-Nya.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya di antara ajaran kenabian terdahulu yang masih ada pada umatku adalah, Jika engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau mau.
(HR. Bukhari no. 3484).
Hadits ini menunjukkan pentingnya rasa malu dalam membimbing perilaku manusia. Jika seseorang kehilangan rasa malu, ia akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan buruk dan maksiat.

Landasan Al-Qur’an tentang Malu.

Meskipun kata “malu” tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun nilai-nilai yang terkait dengan rasa malu dan menjaga kehormatan diri banyak disebutkan dalam berbagai ayat. Salah satu ayat yang relevan adalah dalam Surat Al-Ahzab, di mana Allah SWT berfirman yang artinya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzab: 59).
Ayat ini menunjukkan pentingnya menjaga rasa malu dan kehormatan diri melalui pakaian dan perilaku. Ini adalah salah satu cara untuk melindungi diri dari gangguan dan menjaga kehormatan sebagai bentuk malu yang positif.
Selain itu, dalam Surat An-Nur ayat 30-31, Allah SWT juga memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka sebagai bentuk ketakwaan dan rasa malu di hadapan Allah. Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…
(QS. An-Nur: 30-31).
Ayat ini menunjukkan pentingnya rasa malu dalam menjaga pandangan dan kehormatan diri, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Hakikat Malu dalam Islam.

Dalam Islam, rasa malu termasuk ke dalam sebagian dari iman seseorang. Malu merupakan sifat atau perasaan yang membentengi seseorang dari melakukan tindakan yang dinilai kurang sopan dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Malu adalah bentuk perasaan yang lahir dari kesadaran akan kehadiran Allah SWT. Malu mendorong seorang mukmin untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya.

Ada pepatah yang mengatakan : “Lebih baik paksakan diri masuk ke surga daripada sukarela ke neraka.” Pepatah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa dalam menjalankan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan, terkadang seseorang harus memaksakan diri. Suka atau tidak suka, mau ataupun tidak mau, niscaya kita membutuhkan Allah SWT. Oleh karena itu, malu dalam konteks ini bukan berarti menjadi pemalu atau tidak percaya diri dalam hal yang benar, akan tetapi rasa takut dan tidak nyaman untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.

Imam Nawawi dalam kitabnya “Riyadhus Shalihin” menjelaskan bahwa malu adalah akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam karena ia mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan dosa dan meraih ridha Allah SWT. Sifat malu yang positif adalah yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, sedangkan sifat pemalu yang berlebihan hingga menghalangi seseorang dari melakukan kebaikan adalah sesuatu yang tidak dianjurkan.

Ada 3 Jenis Malu dalam Islam.
Mengutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/Mts Kelas IX susunan Aris Abi Syaifullah dkk malu dalam Islam terbagi menjadi menjadi 3 jenis, yaitu : 1) Malu Terhadap Allah SWT; Rasa malu kepada Allah SWT akan mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah bersabda,
“Malulah kalian kepada Allah dengan sungguh-sungguh rasa malu, yaitu dengan menjaga kepala dan isinya; perut dan makanannya; meninggalkan kesenangan dunia; dan mengingat mati,” 2) Malu Terhadap Manusia; Saat seseorang memiliki sifat malu kepada manusia, maka ia akan menjaga pandangan dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan dosa di hadapan orang lain; 3) Malu Terhadap Diri Sendiri. Yang terakhir adalah malu terhadap diri sendiri. Orang dengan sifat seperti ini tidak akan sanggup melakukan perbuatan dosa meskipun sedang sendirian.
Keutamaan Rasa Malu.

Merujuk pada buku Hak-hak yang Wajib Anda Ketahui dalam Islam, terdapat sejumlah keutamaan yang terkandung dari rasa malu.
Yang pertama, rasa malu merupakan sebagian dari iman sebagaimana mengacu pada hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kedua, rasa malu termasuk ke dalam pakaian paling indah dan perhiasan paling bagus yang dikenakan oleh seseorang, baik itu laki-laki maupun pria. Asalkan, rasa malu tersebut merupakan jalan yang dapat mengantarkan kepada setiap kebenaran, bukan sebaliknya.

Terakhir, rasa malu tergolong ke dalam akhlak Islam. Nabi SAW bahkan menempatkan rasa malu pada tingkatan tertinggi dalam akhlak-akhlak Islam, ini dijelaskan dalam Shahih Sunan Ibn Majah hadits Zaid bin Thalhah RA, Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak-akhlak, dan akhlak-akhlak Islam adalah rasa malu.”

Kembali Secara Intensif Memahami Pusat Literasi Antara lain : Malu adalah bagian dari iman yang sangat penting dalam menjaga akhlak dan perilaku seorang mukmin. Dalam berbagai hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa malu adalah salah satu cabang iman, yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan rasa malu dalam agama Islam. Al-Qur’an juga memberikan petunjuk bagi umat Islam untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri sebagai bentuk nyata dari rasa malu yang positif.
Dengan memiliki rasa malu, seseorang akan senantiasa berusaha untuk melakukan perbuatan baik dan menghindari kemaksiatan, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT. Malu bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang menjaga seorang mukmin tetap berada di jalan yang lurus dan mendapatkan ridha-Nya.
Referensi :

  1. Anisa Rizki Febriani : Malu Sebagian dari Iman. Begini Bunyi Hadits dan Keutamaannya. Detikhikmah. 2023;
  2. Al-Qur’anul Karim;
  3. Hadits, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim;
  4. Nawawi, Imam. “Riyadhus Shalihin.”
  5. YM. Sjahrir Tamsi : Rasa Empati Menggetarkan Hati Manusia. Wartamerdeka.Info. Mamuju, 2024.
    Editor : Usman Laica

By admin