Polewali Mandar, independennews.id — Upacara Adat Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III berlangsung khidmat, tertib, dan penuh makna pada Sabtu, 24 Januari 2026 Masehi bertepatan dengan 5 Sya’ban 1447 Hijriah, bertempat di Aula Gedung SMAN 2 Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.
Upacara adat tersebut diselenggarakan oleh Keluarga Besar Yang Mulia Terhormat (YMT.) Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai adat dan penghormatan terhadap sistem kepemimpinan tradisional Mandar, khususnya di wilayah Polewali Mandar dan sekitarnya.

Prosesi Sakral dan Berlapis Makna
Upacara dipandu oleh MC YM. Hikmawati Mahmuddin, S.Pd., Gr., yang membuka acara dengan pantun adat bernuansa doa dan harapan, menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebagai wujud sinergi adat dan negara.
Selanjutnya ditampilkan tayangan visual lagu-lagu karya Yang Mulia Sjahrir Tamsi, yakni:
“Polman Rumah Kita” (diciptakan 20 April 2025), yang menggambarkan Polewali Mandar sebagai miniatur keberagaman Nusantara.
“Regalia Tomakaka” (diciptakan 12 Januari 2026), sebagai refleksi filosofis simbol kebesaran adat.
“Lestari Budaya Nusantara Satu” (diciptakan 19 April 2025), yang menegaskan komitmen pelestarian budaya bangsa.
Makna Tomakaka dan Regalia Adat
Dalam tradisi Mandar, Tomakaka adalah sebutan bagi pemimpin adat atau lembaga kepemimpinan tradisional yang memegang peran sentral dalam menjaga kedamaian, kesejahteraan, serta keluhuran hukum adat. Tomakaka memimpin musyawarah adat, menyelesaikan persoalan sosial, serta menetapkan keputusan penting demi keberlangsungan kehidupan masyarakat adat.
Sementara itu, Regalia merupakan seperangkat simbol kebesaran dan kehormatan adat, berupa benda pusaka atau atribut khusus yang melambangkan kekuasaan, kewibawaan, dan legitimasi kepemimpinan. Regalia lazim digunakan dalam upacara penobatan raja, sultan, atau pemimpin adat, seperti mahligai atau songkok passapu, selempang adat, pin atau lencana kehormatan, serta pedang adat (kalewang) sebagai simbol keberanian, keadilan, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin.
Kehadiran Tokoh Adat dan Unsur Pemerintahan
Upacara Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III dihadiri lengkap oleh Dewan Adat dan Tokoh Adat “Tallu Bate”, yakni:
Ulu Bate Ma’dika Mirring, YM. H. Alim Intoyo
Tangnga Bate Tomakaka Biru, YM. H. Hasan Dalle
Cappa Bate Tomakaka Dara, YM. Nukmang H. Abdul Rasyid.
Turut hadir para Arung dan tokoh adat Mandar, antara lain:
Arung Malolo, YM. Andi Herman, Arung Tonyamang, YM. Andi Aslam A.M., S.H.
Arung Kalawa, YM. Andi Lidar.
Hadir Perwakilan Arayang Balanipa ke-55. Dan dari pihak keluarga Bene Tomakaka (Permaisuri Tomakaka Adaq Jambu III), hadir Ketua Lembaga Adat Arayang Balanipa, YM. Drs. H. Muhammad Najib Abdullah Madjid, M.M., bersama Puang Lembang Matoa, YM. M. Dayan H. Djahjaddin, serta sejumlah keluarga besar Peppuangan Biring Lembang.
Hadir pula Arruan Batu Tapango, YM. H. Andi Ilham Hambali beserta putra, serta perwakilan unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mandar, yakni dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga.
Prosesi Sakral dan Berlapis Makna

Upacara dipandu oleh MC YM. Hikmawati Mahmuddin, S.Pd., Gr., yang membuka acara dengan pantun adat bernuansa doa dan harapan, menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebagai wujud sinergi adat dan negara.
Selanjutnya ditampilkan tayangan visual lagu-lagu karya Yang Mulia Sjahrir Tamsi, yakni:
“Polman Rumah Kita” (diciptakan 20 April 2025), yang menggambarkan Polewali Mandar sebagai miniatur keberagaman Nusantara.
“Regalia Tomakaka” (diciptakan 12 Januari 2026), sebagai refleksi filosofis simbol kebesaran adat.
“Lestari Budaya Nusantara Satu” (diciptakan 19 April 2025), yang menegaskan komitmen pelestarian budaya bangsa.

Puncak Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III
Prosesi inti diawali dengan pembacaan silsilah keluarga besar Tomakaka Adaq Jambu III, kemudian dilanjutkan momen penuh haru dan makna ketika Yang Mulia Sjahrir Tamsi melakukan sembah sujud sebagai seorang anak, memohon doa dan restu kepada Ibunda tercinta, Yang Mulia Hajjah Mujina binti Ruslan.
Penobatan secara sah dan mengikat ditandai dengan pemasangan Regalia Adat berupa Mahligai atau Songkok Passapu di kepala Yang Mulia Sjahrir Tamsi oleh Wali Adaq/Ahli Waris, yakni:
Yang Mulia Haji Paddacca, dan Yang Mulia Haji Bahtiar Tamsi.
Prosesi dilanjutkan dengan penyematan selempang adat, pin atau lencana kehormatan Tomakaka Adaq, serta penyerahan pedang adat (kalewang) dan perlengkapan adat lainnya. Selanjutnya dilakukan pula penobatan beberapa perangkat adatnya oleh Tomakaka Adaq Jambu III.
Upacara ditutup dengan pembacaan doa oleh YM. Ustaz Hasanuddin, memohon keberkahan, keselamatan, dan keteguhan amanah bagi pemimpin adat yang baru.

Pelestarian Adat dan Identitas Nusantara
Upacara Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III bukan sekadar seremoni adat, melainkan peneguhan identitas, legitimasi kepemimpinan, dan kesinambungan nilai-nilai luhur budaya Mandar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tradisi ini menjadi bukti bahwa adat dan negara dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling memuliakan.
Dengan ditobatkannya Tomakaka Adaq Jambu III, masyarakat adat berharap kepemimpinan adat senantiasa menjadi sumber keteladanan, pemersatu, serta penjaga kearifan lokal bagi generasi kini dan mendatang. (YMT. Sjahrir Tamsi).
