Oleh: Sjahrir Tamsi

independennews.id — Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi hidup yang terus berdenyut dalam nadi bangsa. Dalam konteks inilah, gagasan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., tentang Pembentukan “Gerakan Indonesia Waves” patut diapresiasi dan didukung sebagai langkah strategis memperkuat Soft Power Indonesia di kancah global sekaligus mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Nasional.

Dalam diskusi Sawala Budaya: Sinergi Penguatan Diplomasi Budaya Indonesia bersama para Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) di Museum Nasional Indonesia, Dr. Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan adalah Kekuatan Lunak (Soft Power) paling efektif dalam diplomasi modern. Indonesia, dengan Megadiversity yang dimilikinya, meliputi lebih dari 17.000 pulau, ratusan etnis, bahasa daerah, dan ragam ekspresi budaya yang memiliki sumber daya kultural dan luar biasa untuk menjadi Pusat Gelombang Budaya Dunia.

“Kita ingin Menciptakan Indonesian Waves yang dapat membantu Pertumbuhan Wkonomi di Industri Kreatif. Megadiversity adalah kekuatan kita sebagai Soft Power,” (Fadli Zon : 2025).
Pernyataan ini mencerminkan pandangan Visioner bahwa kebudayaan bukan sekadar identitas, tetapi juga Instrumen Ekonomi dan Diplomasi yang dapat Membangun Citra Positif Indonesia di Mata Dunia.

Diplomasi Budaya: Dari Kolintang hingga Kebaya

Salah satu wujud konkret diplomasi budaya yang digagas Kementerian Kebudayaan RI adalah melalui Joint-Nomination dan Extension List Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO.
Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam peta budaya global, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi lintas negara dalam menjaga nilai-nilai universal kemanusiaan.

Sebagai contoh, Indonesia telah mendaftarkan “Alat Musik Kolintang sebagai Warisan Budaya Dunia”. Kolintang, yang berasal dari Sulawesi Utara, memiliki kemiripan dengan alat musik tradisional Balafon dari Afrika Barat seperti di Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading.
Kesamaan ini memperlihatkan bagaimana musik menjadi jembatan lintas peradaban, mempertemukan bangsa-bangsa dalam Harmoni Universal.

Selain itu, Indonesia juga turut mengajukan “Kebaya” sebagai Warisan Budaya bersama lima negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Inisiatif ini menggambarkan Diplomasi Budaya yang Inklusif, saling Menghargai, dan menjunjung semangat Solidaritas Regional.

“Ke depan, Kita juga akan berusaha untuk melakukan Extension List dengan sejumlah Negara lain, termasuk yang diwakili oleh para Duta Besar Indonesia,” tambah Fadli Zon.
Hal ini memperlihatkan arah kebijakan luar negeri yang cerdas, yakni menggunakan kebudayaan sebagai bahasa diplomasi yang lembut, universal, dan bernilai ekonomi.

Tiga Pilar Kebijakan Kebudayaan

Untuk memastikan gerakan ini berkelanjutan dan berdampak nyata, Menteri Fadli Zon menegaskan “Tiga Prioritas Kebijakan” utama dalam bidang kebudayaan:

  1. Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi – memastikan warisan leluhur terlindungi dari komersialisasi berlebihan dan kepunahan akibat modernisasi;
  2. Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama – memperluas jaringan internasional, mengangkat nilai budaya Indonesia sebagai kekuatan global yang disegani; dan
  3. Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan – menjadikan budaya sebagai sumber daya ekonomi kreatif yang mampu menyejahterakan masyarakat.

Kebijakan ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga dimanfaatkan secara cerdas demi kemajuan bangsa tanpa kehilangan nilai-nilai kearifan lokalnya.

Resonansi Diplomasi dari Para Duta Besar

Sejalan dengan gagasan Menteri Fadli Zon, Duta Besar Indonesia untuk Suriah, Lukman Hakim Siregar, menyatakan pentingnya kerja sama dalam membawa budaya Indonesia ke dunia, termasuk melalui “Program Beasiswa Kebudayaan” bagi pelajar mancanegara.
Inisiatif ini diharapkan memperluas pengaruh Indonesia di ranah pendidikan dan kebudayaan internasional.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Hanoi, Adam Mulawarman Tugio, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi “Pusat Pariwisata Dunia”. Ia menyoroti perlunya “Inovasi di Museum-museum Nasional”, seperti penerapan Studio Imersif yang mampu menarasikan peradaban bangsa dengan teknologi digital interaktif.
Pendekatan kreatif ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata budaya, tetapi juga memperkuat posisi industri kreatif berbasis budaya dalam perekonomian nasional.

Kebudayaan sebagai Gelombang Peradaban Baru

“Gerakan Indonesia Waves” bukan sekadar slogan, melainkan Call to Action bagi seluruh elemen bangsa, yaitu Pemerintah, Pelaku Industri Kreatif, Akademisi, Seniman, dan Masyarakat luas, untuk bersama-sama menebar gelombang budaya Indonesia ke seluruh penjuru dunia.
Sebagaimana Korean Wave (Hallyu) berhasil mengangkat ekonomi dan citra Korea Selatan, demikian pula “Indonesia Waves” berpotensi menjadi kekuatan baru yang menempatkan Indonesia sebagai episentrum kebudayaan dunia.

Dengan kolaborasi lintas sektor, pelestarian tradisi, inovasi digital, dan diplomasi yang berakar pada nilai luhur Nusantara, kebudayaan Indonesia akan menjadi gelombang besar yang membawa bangsa ini menuju peradaban yang disegani dunia.

Salam Budaya dan Keberagaman Nusantara
Dengan penuh hormat dan takzim,
Penulis : Sjahrir Tamsi. (Pemerhati Pendidikan, Budaya, dan Keberagaman Nusantara).
Editor : Usman Laica

By admin