Oleh : Sjahrir Tamsi

independennews.id — Fenomena “Sengkuni menjamur di media sosial” kini menjadi cermin gelap dari Dinamika Komunikasi Digital Kita. Istilah Sengkuni, yang berasal dari Tokoh Licik dan Manipulatif dalam epos “Mahabharata”, kini dipinjam warganet untuk melabeli figur yang gemar memutarbalikkan fakta, mengadu domba, dan menebar kebencian demi kepentingan pribadi atau politik. Namun, di balik kelucuannya, istilah ini menyiratkan keresahan sosial yang lebih dalam, yakni: tentang lunturnya akal sehat dan nilai kemanusiaan di ruang publik digital.

Sengkuni dari Epos ke Era Digital

Dalam kisah “Mahabharata”, Sengkuni bukanlah pahlawan, melainkan Biang Keladi Perang Besar Bharatayuddha. Ia Licik, dan Lihai memainkan Intrik, tapi tak punya keberanian moral. Ia menggunakan kata sebagai senjata dan tipu daya sebagai taktik. Ironisnya, karakter seperti inilah yang kini justru menemukan lahan subur di media sosial, seperti yang seharusnya menjadi medan berbagi gagasan dan pengetahuan.

Transformasi Sengkuni menjadi metafora digital menunjukkan betapa kuatnya adaptasi budaya dalam bahasa politik rakyat. “Sengkuni” kini tak lagi sekadar Tokoh Wayang, melainkan simbol dari Perilaku Manipulatif yang tumbuh subur di dunia maya, baik dalam bentuk akun palsu, propaganda, maupun framing opini publik yang memecah belah bangsa.

Sengkuni dan Krisis Moral Digital

Fenomena ini sejatinya menandakan krisis moral di tengah derasnya arus informasi. Banyak orang lebih senang membagikan fitnah ketimbang fakta, lebih bersemangat menghujat ketimbang berdialog. Dalam situasi seperti itu, nilai kejujuran, kebijaksanaan, dan empati yang menjadi ruh komunikasi sehat, kini terancam punah.

Padahal, Islam mengingatkan dengan tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat : 12).

Hadis Nabi Muhammad SAW pun menguatkan:

“Cukuplah seseorang disebut pendusta apabila ia menceritakan semua yang didengarnya.” (HR. Muslim).

Dua peringatan moral ini seolah dirancang khusus untuk era digital kita saat ini, ketika Jari-jari sering lebih cepat bergerak daripada Hati dan Akal Budi.

Pandangan Para Tokoh dan Nilai Budaya Nusantara

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis, “Bahaya terbesar bukan pada kebohongan itu sendiri, melainkan pada hilangnya kemampuan membedakan mana yang Benar dan mana yang Salah.” Ungkapan ini mengingatkan bahwa di balik setiap “Sengkuni Digital”, ada masyarakat yang lengah menilai dan mudah percaya pada narasi palsu.

Sebagaimana tulisan saya beberapa waktu lalu, menekankan pentingnya “Rasa Malu dan Kehormatan Diri”, sebagai Fondasi Moral yang mengatur perilaku sosial. Dalam Adat Budaya Orang Mandar, seseorang yang gemar mengadu domba disebut “Mappasiri’ ataupun Mipasiru’ ” karena telah kehilangan kehormatan batin. Artinya, licik dan dusta bukan sekadar kesalahan etika, tetapi pelanggaran terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Sementara itu, Bapak Pendidikan Nasional : KI Hajar Dewantara mengingatkan, “Pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka menjadi manusia yang merdeka.” Pernyataan ini dapat dibaca ulang dalam hibingannya dengan media sosial: “Bahwa masyarakat digital juga perlu dituntun untuk menjadi Netizen Merdeka, bukan budak algoritma dan provokasi”.

Menghidupkan Akal Sehat dan Etika Publik

Jika Sengkuni hidup dari tipu daya, maka lawannya adalah Akal Sehat dan Kebijaksanaan. Di sinilah peran Pendidikan, Tokoh Agama, dan adat menjadi sangat penting. Guru dan Pendidik perlu menanamkan literasi digital berbasis etika, bukan sekadar kemampuan teknis. Tokoh Agama perlu memperkuat kesadaran moral agar umat tidak mudah tergoda provokasi kebencian. Sementara para Pemimpin Adat dan Budaya harus menjadi Penjaga Nilai-nilai Kearifan Lokal yang menyejukkan Hati dan Pikiran.

Dalam tradisi Nusantara, komunikasi yang baik selalu berakar pada “Tutur yang Santun, Hati yang Jernih, dan Niat yang Tulus”. Nilai-nilai itu kini harus dihidupkan kembali dalam dunia maya. Setiap pengguna media sosial sejatinya memegang “Kendali Moral” atas apa yang ia tulis dan bagikan.

Menolak Sengkuni, Merawat Akal Sehat

Fenomena “Sengkuni Digital” pada akhirnya bukan hanya soal individu yang licik, melainkan soal struktur kesadaran kolektif yang lemah. Jika kita terus membiarkan tipu daya menjadi budaya, maka perpecahan akan tumbuh tanpa disadari.

Karenanya, Masyarakat yang cerdas tidak akan memelihara Sengkuni di layar Gawainya. Mereka akan memilih untuk berpikir, memeriksa, dan berbicara dengan Hati yang jernih. Sebab, seperti pesan Al-Qur’an,

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah : 147).
Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran berasal dari Allah dan tidak boleh diragukan oleh Nabi Muhammad, dan juga termasuk umatnya.

Zaman ini membutuhkan Manusia Jujur, bukan Licik, bukan Provokatif; Pembangun Harmoni, bukan Pengadu Domba. Sebab, kebohongan mungkin bisa menunda kebenaran, tetapi tidak akan pernah mengalahkannya.

Tentang Penulis : Sjahrir Tamsi. (Pemerhati pendidikan dan Budaya, Pegiat Literasi dan Kebajikan Publik, asal daerah: Sulawesi Barat).
Editor : Usman Laica

By admin