Oleh: Sjahrir Tamsi

independennews.id — Adab adalah Inti dari Kepribadian Bangsa.
Ia lebih tinggi dari sekadar pengetahuan,
lebih dalam dari sekadar sopan santun, dan
lebih halus dari sekadar tata krama.

Dalam pandangan para Tokoh Adat Nusantara, Adab merupakan Napas Kehidupan yang Menuntun Manusia untuk Menjaga Kehormatan Diri, Menghargai Sesama, serta Menegakkan Martabat Budaya dan Kemanusiaan.

Para Tokoh Adat dari berbagai wilayah di Nusantara seperti dari Bugis-Makassar, Jawa, Sunda, Bali, hingga Papua, memiliki kesamaan nilai yang luhur yakni: “Menempatkan Adab di atas Kepandaian”.
Dalam Masyarakat Adat :

“Orang yang berilmu tanpa adab dianggap belum paripurna”; sebaliknya,

“Orang beradab selalu dihormati karena ia menebarkan keteduhan, kebijaksanaan, dan rasa hormat di tengah kehidupan sosial”.

Menjaga Kehormatan Diri dan Masyarakat

Tokoh Adat Sejati senantiasa menjaga kehormatan diri dan masyarakatnya. Mereka sadar bahwa kehormatan tidak dibangun oleh harta, pangkat, atau kekuasaan, tetapi oleh Akhlak dan Kejujuran.
Dalam pandangan mereka, “Malu” adalah Benteng Moral.
Rasa malu bukan kelemahan, melainkan penjaga agar manusia tidak melampaui batas. Seorang Pemangku Adat akan menahan diri dari perilaku tercela, karena ia memikul kehormatan bukan hanya pribadi, tetapi juga Nama Besar Suku dan Leluhurnya.

Sikap Hormat dan Tawadhu

Sikap Tawadhu atau Rendah Hati menjadi ciri utama para Tokoh Adat Nusantara.

“Mereka Menghormati Pemimpin, Sesama, serta Mengakui Keutamaan Orang lain Tanpa Iri”.

Dalam adat Bugis-Makassar dikenal ungkapan “Malilu sipakainge’, Mali siparappe’, Rebba sipatokkong” : yang bermakna saling menasihati, saling menolong, dan saling menegakkan dalam kebenaran.
Begitu pula di Jawa, pepatah “Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busana”, mengingatkan bahwa kehormatan seseorang bergantung pada ucapannya dan perbuatannya.

Perilaku dan Tutur Kata Sopan

Bahasa adalah Cermin Budi. Tokoh Adat diajarkan untuk Bertutur Lembut dan Berperilaku Santun, karena Tutur Kata yang Baik adalah Jembatan Hati dan simbol Kasih sayang. Mereka tidak hanya bicara untuk didengar, tetapi untuk menenteramkan. Dalam budaya Melayu dikenal prinsip “Budi Bahasa Budaya Bangsa” : bahwa Bangsa yang Besar diukur dari Adab Tutur warganya.

Menjaga dan Mewariskan Kearifan Lokal

Para Tokoh Adat memegang peran penting dalam melestarikan nilai-nilai luhur Kearifan Lokal. Mereka bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi juga pengemban misi kebudayaan. Kearifan Lokal bukan warisan masa lalu yang usang, melainkan sumber nilai yang relevan untuk kehidupan modern, seperti: Kejujuran, Gotong royong, Solidaritas sosial, dan Penghormatan pada Alam. Ketika dunia modern kian kehilangan arah moral, nilai-nilai adat ini justru menjadi Jangkar Spiritual Bangsa.

Wujud Nyata Penghormatan dan Bakti

Setiap Budaya memiliki cara unik untuk mengekspresikan penghormatan.
Di Jawa, tradisi “Mencium Tangan Orang tua atau Kakek-Nenek adalah Lambang Bakti dan Kerendahan Hati”.
Di Bugis-Makassar dikenal istilah “Massalami”, cium tangan kepada Tokoh Adat atau Orang tua saat berjumpa, bukan sekadar ritual, melainkan simbol Penyerahan Diri pada Nilai Hormat dan Doa Restu.
Di berbagai daerah lain, seperti Bali dengan “Sembah”, dan di Minangkabau dengan “Salim Tangan”, semua bermuara pada Penghormatan terhadap yang Dituakan dan Pengakuan atas Kebijaksanaan.

Keteladanan dalam Pengabdian dan Keikhlasan

Adab tidak berhenti pada sopan santun, tetapi mewujud dalam pengabdian. Tokoh seperti Kyai Ahmad Dahlan menjadi Teladan Sejati, yakni: “Berjuang dengan Keikhlasan, Tanpa Pamrih, Tanpa Dendam, Semata-mata untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa”.
Nilai ini juga hidup dalam jiwa para Pemangku Adat Nusantara yang tulus melayani masyarakatnya, seperti :

“Membimbing tanpa Menggurui”,

“Menegur tanpa Merendahkan”, dan

“Berbuat tanpa Mengharap Balas jasa”.

Adab sebagai Pondasi Bangsa Beradab

Dalam hal kehidupan kebangsaan hari ini, ketika media sosial kerap dipenuhi ujaran kebencian, ketika etika publik terkadang terkikis oleh kepentingan politik, maka meneladani Adab para Tokoh Adat menjadi semakin relevan. Pemerintah, Lembaga Pendidikan, dan Masyarakat perlu bersinergi untuk menjadikan Adab sebagai Fondasi Karakter Bangsa. Pendidikan Adab, bukan sekadar Moral Teoritis, melainkan harus dihidupkan kembali melalui Keteladanan Nyata, baik oleh Guru, Tokoh Agama, maupun Tokoh Adat di lapangan.

Kembali ke Akar, Maju dengan Adab

Adab adalah Akar Peradaban.
Dari akar itulah tumbuh Bangsa yang Berjiwa Besar, Beretika, dan Bermartabat. Bila akar itu rapuh, batang dan daun peradaban pun mudah layu. Maka, sudah sepatutnya Kita kembali menimba kearifan dari para Tokoh Adat Nusantara, namu bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk Menegakkan Peradaban yang Santun di Tengah Dunia yang kian bising oleh Ego dan Kepentingan.

Sebagaimana kata bijak lama, “Bangsa yang Besar bukan yang kaya sumber daya, tetapi yang Kaya Adab dan Budi.” Dan itulah hakikat sejati dari warisan para Tokoh Adat Nusantara, yakni “Adab yang Menumbuhkan Martabat Bangsa Indonesia Tercinta ini”.

Editor : Usman Laica

By admin