independennews.id — Di tengah arus deras modernitas dan kemajuan digital, kita kerap disuguhi pemandangan “Budaya Pamer Harta” seperti : Gaya hidup yang menonjolkan kemewahan, simbol status, dan pencitraan diri semu. Fenomena ini, meski tampak remeh, sejatinya merefleksikan keterbatasan mental kolektif : “Hilangnya kepekaan sosial, memudarnya keteladanan, dan tergerusnya empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan”.

Padahal, Bangsa ini berdiri kokoh bukan karena tumpukan harta yang dipamerkan, melainkan karena karya monumental dan pengorbanan para Tokoh Bangsa.
Bung Karno pernah berujar, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Jasa itu bukanlah gemerlap kekayaan, melainkan dedikasi, keberanian, dan keteladanan yang meninggalkan warisan intelektual dan moral hingga hari ini.

Keteladanan Sebagai Kompas Kehidupan

Tokoh Agama mengingatkan Kita, sebagaimana hadis Rasulullah SAW : “Bukanlah Kekayaan itu karena Banyak Harta, tetapi Kekayaan Sejati adalah Kekayaan Jiwa.” Inilah penanda bahwa “Pamer Harta” hanyalah fatamorgana, sementara kelapangan Jiwa dan kerendahan Hati adalah inti kekayaan sejati.

Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan dari Tanah Malaqbi Mandar Sulawesi Barat, Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., menegaskan bahwa filosofi : “Sibaliparriq” mengajarkan Kita untuk senantiasa menyamakan frekuensi dan cipta kondisi dalam bekerja sama, gotong royong, musyawarah, saling mengingatkan, toleransi dan merawat harmoni. Falsafah ini menolak sikap individualistis yang lahir dari Budaya Pamer dan mengedepankan Solidaritas sebagai Fondasi Hidup dalam Bermasyarakat.

Tokoh Pendidikan Ki Hajar Dewantara mengajarkan, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Keteladanan bukan sekadar jargon, melainkan praksis nyata yang menuntun generasi agar menilai seseorang dari karya dan integritas, bukan dari kemewahan semu.

Filosofi Makna Kata : Antara Baik, Benar, dan Tepat

Dalam berucap, baik secara lisan maupun tulisan, manusia kerap terjebak dalam dilema diksi.

Baik belum tentu Benar,

Benar belum tentu Tepat, dan

Tepat belum tentu Disukai.

Semua berpulang pada siapa yang memaknainya. (Ketua DPP-IARMI Sulbar, Ir. Andi Muslim Fatta : 2025).

Di sinilah letak pentingnya kebijaksanaan dalam memilih kata, karena kata adalah cermin jiwa, sekaligus senjata yang dapat menguatkan atau melukai.

Seorang Guru Besar pernah berpesan, “Berpikirlah sebelum Berbicara, karena kata yang meluncur tak ubahnya anak panah yang tak lagi dapat ditarik kembali.” Dalam era digital, ketika setiap kata dapat diabadikan dan disebarkan tanpa batas, kehati-hatian menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

Membangun Budaya Keteladanan

Restorasi Moral Bangsa harus dimulai dari merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para Pendiri Bangsa ini. Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pendidikan, Tokoh Pemuda, hingga Masyarakat luas perlu menghidupkan kembali semangat keteladanan, bukan pencitraan.

Keteladanan adalah modal sosial yang abadi. Ia tidak lapuk di hujan dan tak lekang di panas bahkan tidak pudar oleh waktu dan tidak runtuh oleh zaman. Sejarah membuktikan, nama Besar Tokoh Bangsa dikenang bukan karena istana megah atau kendaraan mewah, tetapi karena kontribusi, integritas, dan karya nyata yang diwariskan.

Jalan Pulang Menuju Jiwa Besar

Budaya “Pamer Harta” hanya menyisakan ruang kosong dalam peradaban. Ia mungkin memukau sesaat, tetapi cepat berlalu tanpa meninggalkan makna. Sebaliknya, keteladanan, empati, dan kebijaksanaan adalah harta abadi yang nilainya tak pernah pudar oleh waktu dan tidak runtuh oleh zaman..

Mari kita kembali pada jalan pulang menuju jiwa besar. Sebuah jalan yang mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang Kita Miliki, tetapi seberapa banyak yang Kita Beri.

Sebagaimana dikatakan Nelson Mandela, “Apa yang diperhitungkan dalam kehidupan bukanlah fakta bahwa Kita sudah hidup, tetapi perbedaan yang telah Kita buat dalam kehidupan orang lain.”

Inilah panggilan zaman : mengikis “Budaya Pamer”, Merestorasi Keteladanan, dan Menyalakan kembali Lentera Kebijaksanaan dalam diri setiap Insan.

Salam WCDS..!
Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin