independennews.id — Di tengah derasnya arus globalisasi, persaingan tanpa batas, dan penetrasi digital yang begitu kuat, banyak orang terjebak dalam pusaran ambisi, kecemasan, dan perbandingan sosial yang melelahkan. Fenomena ini melahirkan kegelisahan kolektif: “Stres yang meningkat, relasi yang renggang, hingga kecanduan gawai yang menumpulkan kualitas interaksi manusia”. Maka, jalan menuju kehidupan moderat seperti: tenang, bahagia, sekaligus bermakna, menjadi sangat relevan, bukan hanya untuk individu, tetapi juga bagi bangsa yang sedang mencari keseimbangan dalam modernitas.

Filosofi Bersyukur dan Moderasi Hidup

Kebijaksanaan klasik mengajarkan, “Barang siapa yang pandai bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah.” (QS. Ibrahim: 7). Bersyukur bukan sekadar ucapan syukur, melainkan seni melihat hidup dari sisi yang lebih jernih.
Bung Hatta pernah berkata, “Kekayaan yang sesungguhnya adalah Hidup sederhana dengan Hati yang kaya.” Pandangan ini mengingatkan kita bahwa moderasi bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan untuk menata diri dalam kesederhanaan, menerima realitas, dan tetap berdaya menghadapi tantangan.

Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan Kontemporer, menegaskan bahwa “Keseimbangan hidup akan sulit tercapai bila manusia hanya berorientasi pada materialisme dan pengakuan semu”. Baginya, kunci kebahagiaan adalah “Manajemen Pikiran dan Hati” seperti: menenangkan diri, berhenti membandingkan, serta mengisi hidup dengan kontribusi yang nyata bagi masyarakat.

Strategi Mencapai Hidup Moderat

Ada empat pilar utama yang dapat dijadikan pegangan dalam meraih kehidupan yang lebih moderat dan bermakna :

  1. Mengelola Diri dan Pikiran

1) Bersyukur atas apa yang dimiliki, alih-alih terus menuntut apa yang belum ada;
2) Kelola Stres melalui meditasi, olahraga, atau aktivitas spiritual;
3) Terima Diri Sendiri apa adanya, karena penerimaan adalah pintu menuju kedamaian;
4) Hidup pada masa kini, tidak larut dalam penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan; dan
5) Berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, sebab setiap orang memiliki takdir dan jalannya sendiri.

  1. Menjaga Keseimbangan Hidup

1) Mencari keseimbangan antara kerja, keluarga, dan waktu pribadi;
2) Menjalani hidup dengan ritme yang tenang, tanpa dikejar bayangan orang lain;
3) Beradaptasi dengan perubahan sebagai keniscayaan zaman; dan
4) Menetapkan prioritas agar fokus pada hal-hal yang esensial.

  1. Memelihara Hubungan dan Lingkungan

1) Merawat Hubungan Sehat dengan keluarga, sahabat, dan komunitas;
2) Berbagi dengan orang lain, karena memberi bukan hanya meringankan beban sesama, tapi juga memperkaya jiwa; dan
3) Menghindari Ketergantungan pada Gawai dan Media Sosial, menggantinya dengan aktivitas nyata yang lebih produktif.

  1. Membangun Kebiasaan Positif

1) Melakukan aktivitas yang disukai untuk menumbuhkan rasa bahagia;
2) Menjaga tubuh melalui olahraga rutin dan pola makan sehat;
3) Berinteraksi dengan orang-orang positif yang memberi energi baik.

Perspektif Tokoh dan Relevansi bagi Bangsa

Ki Hajar Dewantara mengajarkan prinsip “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Hidup moderat yang dipraktikkan oleh individu akan memberi teladan, menguatkan semangat bersama, dan pada akhirnya membentuk masyarakat yang harmonis.

Dari sisi adat dan budaya, moderasi hidup sejalan dengan Falsafah Hidup dan Identitas bagi Orang Mandar yakni : “Malaqbi” adalah falsafah hidup dan identitas bagi orang Mandar yang berarti harkat dan kedudukan tinggi, serta nilai-nilai luhur seperti baik dalam perbuatan, perkataan, dan tingkah laku (Malaqbi Pau annaq Malaqbiq Gau). Falsafah ini menjadi panduan hidup dan budaya kerja bagi Orang Mandar untuk membangun karakter mulia, menjunjung tinggi integritas, dan memberikan pelayanan yang baik kepada sesama dengan menekankan harga diri, empati, dan keseimbangan dalam relasi sosial. Sedangkan dari perspektif pemerintahan, penerapan strategi hidup moderat ini penting untuk menciptakan masyarakat yang sehat secara mental, berdaya saing, namun tetap berakar pada nilai kemanusiaan dan kebudayaan lokal.

Rekomendasi Konkret

  1. Pemerintah Pusat dan Daerah perlu mengarusutamakan program literasi kesehatan mental, termasuk edukasi bersyukur, manajemen stres, dan literasi digital untuk menekan dampak negatif media sosial.
  2. Tokoh Adat dan Agama diharapkan lebih aktif mengkampanyekan nilai moderasi, keseimbangan, dan kesederhanaan hidup dalam ceramah, ritual, maupun praktik budaya.
  3. Sekolah dan Dunia Pendidikan wajib memasukkan materi pengelolaan diri, kebahagiaan, dan moderasi hidup dalam kurikulum penguatan karakter.
  4. Masyarakat Umum dapat mulai dari hal sederhana: membatasi waktu layar, meluangkan waktu bersama keluarga, dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
  5. Generasi Muda perlu didorong untuk menjadikan moderasi hidup sebagai gaya hidup baru, bukan sekadar wacana, agar tumbuh menjadi pribadi tangguh, bijak, dan bahagia.

Hidup Moderat adalah seni menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kerja keras dan istirahat, antara dunia nyata dan dunia digital. Ia bukan sekadar pilihan, melainkan jalan terbaik untuk membangun peradaban yang damai, berkelanjutan, dan membahagiakan.
Seperti dikatakan Mahatma Gandhi, “Kebahagiaan sejati adalah ketika apa yang kamu pikirkan, kamu katakan, dan kamu lakukan berada dalam harmoni.”

Maka, mari menapaki jalan moderasi dengan cara : Dimulai dari Firi, meluas ke Keluarga, menular ke Masyarakat, hingga Membentuk Bangsa yang Kuat, Berbudaya, dan Berbahagia.

Sala. Budaya dan Literasi..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin