independennews.id — Perdebatan tentang boleh atau tidaknya siswa membawa handphone ke sekolah semakin hangat dalam beberapa tahun terakhir. Gawai, istilah baku bahasa Indonesia untuk Gadget dalam bahasa Inggris, kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak dan remaja. Dari smartphone, laptop, hingga jam tangan pintar, gawai dirancang untuk mempermudah aktivitas manusia. Namun, apakah keberadaannya di sekolah lebih banyak membawa manfaat, atau justru menimbulkan masalah?
Dampak Positif yang Perlu Diakui
Tidak dapat dipungkiri, “Gawai” memiliki sisi positif yang bisa menunjang pembelajaran :
- Akses Informasi Cepat : Siswa dapat mencari referensi, membaca materi pelajaran, hingga memperdalam pengetahuan hanya dalam hitungan detik.
- Komunikasi dengan Orang Tua : Dalam kondisi darurat, gawai memberi rasa aman bagi siswa maupun orang tua.
- Alat Bantu Belajar : Banyak aplikasi edukatif, video pembelajaran, atau platform digital yang bisa membantu memahami konsep sulit.
- Literasi Digital : Penggunaan Gawai yang bijak melatih keterampilan digital, sebuah kompetensi penting di era 4.0 menuju Indonesia Emas 2045.
Dampak Negatif yang Harus Diwaspadai

Meski demikian, penggunaan Gawai di sekolah juga membawa risiko yang tidak kecil :
- Gangguan Konsentrasi : Media sosial, pesan singkat, hingga permainan sering kali lebih menarik perhatian siswa ketimbang pelajaran.
- Ketidaksetaraan Akses: Tidak semua siswa memiliki perangkat atau jaringan internet yang sama, sehingga menimbulkan jurang kesenjangan.
- Kecanduan dan Gangguan Kesehatan : Pemakaian berlebihan dapat menyebabkan sulit tidur, menurunnya konsentrasi, bahkan masalah kesehatan mental.
Jalan Tengah : Bijak Mengelola Penggunaan Gawai
Daripada melarang total, sekolah justru perlu merumuskan kebijakan yang bijak. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain :
- Pedoman Jelas : Membuat aturan tertulis tentang kapan dan bagaimana gawai boleh digunakan di sekolah.
- Penggunaan Terarah : Mengizinkan gawai dipakai sebagai referensi, aplikasi pembelajaran, atau kolaborasi proyek kelompok.
- Pengawasan Waktu : Memberlakukan zona atau waktu tertentu, misalnya hanya saat istirahat atau setelah pelajaran selesai.
- Pendidikan Digital : Membekali siswa dengan literasi digital agar tahu cara menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
- Kolaborasi dengan Orang Tua : Orang tua tetap memegang peran penting dalam mengawasi penggunaan gawai di rumah.
Menemukan Keseimbangan

Pada akhirnya, Gawai hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya. Sekolah dan orang tua harus bergandengan tangan menemukan keseimbangan: memanfaatkan potensi positif gawai, sekaligus menekan dampak negatifnya. Dengan pendidikan yang bijak, disiplin yang konsisten, serta keteladanan guru dan orang tua, gawai dapat berubah dari sekadar sumber gangguan menjadi jembatan menuju masa depan anak-anak yang lebih cerdas, kreatif, dan berkarakter.
“Teknologi seharusnya mendekatkan manusia pada pengetahuan dan kebaikan, bukan menjauhkannya dari kasih sayang dan nilai kemanusiaan.”
Refleksi:
Budaya literasi sejatinya bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan sebuah “Kesadaran Kolektif untuk Memelihara Ingatan, Pengetahuan, serta Jati Diri Bangsa”.
Dalam konteks Nusantara, literasi telah diwariskan melalui beragam bentuk :
Lontaraq bagi orang Bugis, Makassar dan Mandar;
Babad Jawa;
Tambo Minangkabau;
Hikayat Melayu, hingga Tutur Lisan Masyarakat Adat yang sarat nilai kebijaksanaan.
Semua itu membuktikan bahwa bangsa ini tumbuh besar karena “Kemampuan Leluhur Mentransmisikan Ilmu Pengetahuan melalui Tradisi Luterasi yang Berakar pada Kebudayaan”.
Di era digital saat ini, budaya literasi menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangan muncul dari derasnya arus informasi instan yang sering kali menyingkirkan kebiasaan membaca mendalam. Namun, peluang justru terbuka lebar melalui teknologi yang memungkinkan Generasi Muda mengakses berbagai pengetahuan dunia. Maka, refleksi yang perlu kita tanamkan adalah : “Bagaimana menjadikan literasi bukan hanya keterampilan kognitif, tetapi juga sikap hidup yang menyejukkan hati, menumbuhkan empati, serta membangun kesadaran kritis kebangsaan”.
Lebih jauh lagi, literasi dapat dijadikan “Pilar Persatuan dan Ketahanan Budaya”. Dengan membaca dan menulis, kita belajar menghargai perbedaan, merajut keberagaman, dan menghindari polarisasi. Dengan menumbuhkan budaya literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat, kita tidak hanya mencetak generasi cerdas secara akademik, tetapi juga bijak, berkarakter, dan mampu menjaga kedaulatan bangsa.
Oleh karena itu, setiap langkah kecil dalam membiasakan literasi, mulai dari membaca buku setiap hari, menulis refleksi pribadi, mendiskusikan gagasan di ruang kelas, hingga membagikan inspirasi melalui media sosial adalah bagian dari ikhtiar besar menegakkan peradaban Indonesia yang maju, adil, beradab dan berkelanjutan.
Salam Budaya Literasi..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
