independennews.id — Ilmu Pengetahuan sering dipahami sebagai jalan menuju Kemajuan Peradaban. Namun, Ilmu Pengetahuan tanpa Karakter ibarat “Kapal Besar tanpa Kompas: Canggih, Kuat, tetapi Berisiko Kehilangan Arah”. Sebaliknya, Karakter tanpa Ilmu Pengetahuan hanya akan menjadi “Idealisme Kosong yang Sulit Diwujudkan dalam Realitas Zaman”. Oleh karena itu, kedua hal ini harus berjalan beriringan sebagai Fondasi Bangsa yang Berkemajuan.

Dalam konteks Indonesia, Tantangan Besar Kita hari ini bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan di tengah derasnya arus digitalisasi, tetapi juga memastikan bahwa “Ilmu tersebut Dipandu oleh Karakter Mulia berupa : Kejujuran, Empati, Kerja Keras, dan Tanggung jawab”. Sejarah mencatat, Bangsa yang Besar tidak hanya dibangun oleh Orang-orang Cerdas, melainkan juga oleh Pribadi yang Berkarakter.

Contoh Nyata di Sekolah:

  1. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Menanamkan Nilai Religius, Gotong royong, dan Integritas melalui kegiatan harian dan proyek sosial.
  2. Sekolah Berbasis Proyek Sosial, misalnya Siswa SMK Program Kompetensi Teknik membantu Desa membangun Sistem Air Bersih, atau Siswa dengan Program Desain/TIK membuat Kampanye Literasi Digital.

Contoh Nyata di Masyarakat:

  1. Gotong Royong digital lewat penggalangan dana online untuk korban bencana.
  2. Kearifan Lokal seperti Mapalus di Minahasa atau Siri’ na Pacce di Sulawesi Selatan dan Sibaliparriq di Sulawesi Barat menjadi Teladan Nilai Karakter dalam Kehidupan Sosial.

Rekomendasi Strategis:

  1. Pemerintah Pusat: Perkuat Kurikulum seimbang antara Ilmu dan Karakter, serta Jamin Integritas Riset dan Pendidikan.
  2. Pemerintah Daerah: Internalisasikan Budaya dan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Dasar dan Menengah serta Bangun Pusat Literasi Daerah.
    Menyamakan Frekuensi dan Cipta Kondisi untuk senantiasa mempublikasikan setiap Karya Kreatif dan Kegiatan yang Inovatif. (Prof. Dr. Zudan Arief Fakhrullah, S.H., M.H., Pj. Gubernur Sulawesi Barat. 2023).
    Mewajibkan setiap Siswa membaca tuntas 20 Buku sebagai Syarat Tamat dari Sekolah. (Dr. H. Suhardi Duka, M.M., Gubernur Sulawesi Barat: 2025).
  3. Sekolah: Terapkan Project-Based Learning dan Budaya Jujur dalam Semua Aspek.
    Program 3 in 1 : 1. Digitalisasi Presensi Guru dan Siswa. 2. Tiada Hari Tanpa Praktik Kejuruan, 3. Happy School. (Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., Kepala SMKN Sulbar/Industri Kakao 2014-2018 dan Kepala UPTD SMKN 1 Tapalang Barat 2020-2024).
  4. Masyarakat: Perkuat Gerakan Literasi Komunitas dan libatkan Orang tua sebagai Pendidik Karakter Utama.
  5. Kolaborasi dengan Komunitas Adat dan Tokoh Masyarakat: Untuk menjadi Teladan Nilai-nilai Karakter, Seni Budaya, Adat dan Kearifan Lokal Leluhur dari Kerajaan-Kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan: Pitu Ulunna Salu dan Kerajaan-Kerajaan dari Pitu Ba’bana Binanga serta Kakaruanna Tiparittiqna Uhai khususnya bagi Generasi Muda Provinsi Sulawesi Barat.

Ilmu Memberi Sayap untuk Terbang Tinggi, Karakter Memberi Akar agar tidak Tercerabut dari Bumi

Dengan keduanya, Indonesia melangkah Mantap, Bermartabat, Berdaya Saing, sekaligus Humanis.

Bung Hatta pernah menekankan pentingnya integritas ketika berkata: “Aku rela di penjara asalkan bersama Buku, karena dengan Buku aku Bebas.” Kalimat ini mengajarkan bahwa “Pengetahuan yang Diinternalisasi dalam Jiwa Berkarakter akan Melahirkan Kebebasan Sejati, bukan sekadar Kebebasan Fisik, melainkan Kebebasan Berpikir dan Bertindak secara Bermartabat”.

Sebagai Bangsa yang sedang menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045, Integrasi Ilmu dan Karakter bukan sekadar Idealisme, melainkan Kebutuhan Strategis. Dengan “Sinergi Pemerintah, Sekolah, dan Masyarakat, Ilmu Pngetahuan akan Benar-benar menjadi Cahaya Penerang, sementara Karakter menjadi Kompas Moralnya”.

Salam Literasi..!
Penulis: Sjahrir Tamsi
Edito: Usman Laica

By admin