Oleh : Sjahrir Tamsi

independennews.idAda rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, namun terasa kuat dalam dada : “Rindu akan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia”. Rindu ini bukan sekadar nostalgia, tetapi pancaran jiwa kolektif bangsa yang “Merindukan Kobaran Semangat Persatuan, Kebersamaan, dan Cinta Tanah Air” yang tulus, seperti getar gamelan yang mengalun dalam tenang, namun menggugah.

Bulan Agustus bagi bangsa Indonesia bukan hanya peristiwa tahunan. Ia adalah “Bulan Sakral”, di mana semangat para leluhur : Raja-raja, Sultan, Raden, Mara’dia Arung, Datu, Tomakaka dan Tokoh Adat dari seluruh penjuru Nusantara, seakan bangkit kembali dalam ingatan kita, “Membisikkan Spirit Adat Nusantara tentang Nilai-nilai Luhur Perjuangan, Keadilan, dan Martabat Kebangsaan”.
Spirit leluhur adat Nusantara yang merupakan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, yang menjadi “Pedoman dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Berbudaya”. Ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari sistem kepercayaan, adat istiadat, seni, hingga cara masyarakat berinteraksi dengan alam dan sesama. 

1. Persatuan yang Mengakar dari Akar Budaya

Peringatan HUT Proklamasi adalah “Saat Sakral” ketika seluruh rakyat Indonesia melebur dalam satu rasa. Di sinilah ruh “Bhineka Tunggal Ika” menjelma nyata. Seperti anyaman tikar adat yang saling bertaut benang demi benang, kita yang berbeda suku, bahasa, agama, dan adat istiadat, merayakan “Kemerdekaan sebagai Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa dan Satu Nasib”.

Momentum ini menghidupkan kembali irama Semangat Gotong royong yang diwariskan leluhur; seperti upacara adat di Bali, rapat adat di Minangkabau, atau tradisi Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi dalam budaya Orang Bugis-Makassar, Sibaliparriq bagi Orang Mandar, semua mengajarkan bahwa “Persatuan bukan Pilihan, melainkan Warisan Suci.

2. Mengenang Para Pahlawan sebagai Leluhur Peradaban

Ketika Sang Saka Merah Putih berkibar, Ratusan Juta Jiwa menunduk dalam hening. Kita mengenang para pahlawan, baik yang dikenal dalam buku sejarah maupun yang tak bernama namun telah “Menumpahkan Darah dan Air Mata demi Negeri. Mereka adalah “Pewaris Nilai Kepahlawanan” dari Kerajaan, Kesultanan, Arayang dan Arajang, Arung, Datu dan Tomakaka Adaq lama : seperti “Keberanian Pattimura di Maluku dan Sultan Hasanuddin di Gowa, Keikhlasan Pangeran Diponegoro di Jawa, dan Keagungan Hj. Andi Depu di tanah Mandar.

Mereka bukan sekadar tokoh sejarah, tapi mereka adalah simbol keteladanan.
Dalam semangat peringatan HUT RI, nama-nama besar dan nilai-nilai luhur itu perlu terus dihidupkan dalam cara berpikir dan bertindak kita sebagai bangsa merdeka.

3. Kemeriahan sebagai Ekspresi Budaya dan Kreativitas

Lomba panjat pinang, pawai adat, tari-tarian daerah, musik tradisional, hingga pertunjukan seni rupa dan digital, semua adalah “Ekspresi Kebudayaan yang Hidup”. Perayaan kemerdekaan bukan hanya seremoni, tetapi juga pernyataan bahwa “Identitas Bangsa ini Tumbuh dari Akar Budaya yang Kokoh”.

Generasi Muda yang turut ambil bagian dalam lomba dan festival tidak sekadar mencari juara, melainkan “Menyambung Warisan”. Mereka adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dan Pemerintah, bersama Masyarakat Adat, wajib menjadi pelindung panggung ini, agar budaya tak sekadar dipamerkan, tapi dihidupkan.

4. Refleksi Sebagai Napas Perjalanan Bangsa

Kemerdekaan bukan titik akhir, melainkan “Jalan Panjang Peradaban”. HUT Proklamasi sejatinya menjadi “Cermin Raksasa” tempat kita bercermin : *Sudah sejauh mana bangsa ini berjalan? *Apakah keadilan sosial sudah tercapai?
*Apakah anak-anak pelosok negeri sudah merasakan pendidikan dan kesehatan yang layak?

Refleksi ini penting, agar kita tidak terjebak dalam seremoni kosong. Kita harus bertanya : *Apakah Kita sudah Setia pada Cita-cita para Pendiri Bangsa?
*Apakah Negeri ini telah menjadi Rumah yang Nyaman bagi Semua, Tanpa Diskriminasi dan Ketimpangan?

Menjaga Api, Menyemai Harapan

Di tengah arus globalisasi yang menderas dan derasnya teknologi yang melaju tanpa jeda, “Kita Tak Boleh Kehilangan Akar”. Perayaan HUT Proklamasi bukan hanya milik Istana Negara, tetapi juga milik Dusun, Desa dan Masyarakat Adat, Pesantren-pesantren kecil, Komunitas-komunitas Seni Budaya, dan Ruang-ruang Hidup Rakyat.

Mari kita rawat rasa rindu ini menjadi api semangat, bukan hanya di bulan Agustus, tetapi sepanjang tahun. Oleh karena, Kemerdekaan bukan hanya tentang merdeka dari penjajah, tetapi “Merdeka untuk Bermartabat, Berkarya, dan Memanusiakan Manusia”.

Dengan semangat luhur dari para leluhur yang mengalir dalam darah kita, mari kita bangkit sebagai bangsa yang “Berbudaya, Bersatu, dan Bermasa Depan.
Merdeka!

Catatan Penghujung: Tulisan ini ditujukan untuk menjadi “Refleksi Kebangsaan Lintas Generasi, Lintas Suku, dan Lintas Adat, demi Indonesia yang lebih Adil, Berbudaya, dan Berdaulat dalam Bingkai NKRI.

Tentang Penulis:
Sjahrir Tamsi lahir di Kota Kecil Polewali, pada Sabtu, 8 Agustus 1964. Purnabakti ASN-PNS (Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas). Penulis yang konsisten memperjuangkan Pendidikan dan Kebudayaan yang berbasis Nilai-nilai Luhur Leluhur Nusantara. Asal Kampung Dara’ Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Aktif menulis dan menyuarakan nilai-nilai Kebangsaan dan atau Nasionalisme, Pendidikan Karakter, Seni Budaya, Adat Nusantara dan Kearifan Lokal serta Konsisten mendorong Transformasi Pendidikan, Penguatan Jati Diri Bangsa berbasis Inklusivitas. (***)

By admin