Oleh : Sjahrir Tamsi
independennews.id — “Kami di Australia tidak terlalu khawatir jika anak-anak kami tidak bisa matematika. Kami lebih khawatir jika mereka tidak bisa mengantri.” – Seorang guru di Australia.
Pernyataan ini sekilas terdengar mengherankan, namun menyimpan makna mendalam tentang esensi pendidikan karakter di negara-negara maju. Mengapa budaya antri justru dianggap lebih penting dibanding kecakapan akademik seperti matematika? Jawabannya terletak pada nilai-nilai moral dan sosial yang terkandung di dalamnya.
Mengapa Budaya Antri Dianggap Penting?
Antri, secara sederhana berarti menunggu giliran secara tertib dan teratur. Namun lebih dari itu, antri merupakan perwujudan karakter dan moralitas yang tumbuh dari kesadaran diri, bukan paksaan. Di balik tindakan menunggu giliran, tersimpan pelajaran penting yang membentuk manusia seutuhnya, yaitu :
- Manajemen waktu dan perencanaan.
Anak yang ingin berada di depan harus datang lebih awal dan bersiap lebih cepat. Ini menanamkan kebiasaan mengatur waktu; - Kesabaran dan ketabahan.
Antri melatih anak untuk menunda kepuasan, suatu kemampuan yang penting dalam kehidupan (Mischel, 2014); - Menghargai hak orang lain.
Antri mengajarkan anak bahwa setiap individu memiliki hak yang harus dihormati; - Disiplin dan keadilan sosial.
Dalam antrian, semua orang setara. Tidak ada keistimewaan kecuali urutan kedatangan; - Kreativitas dan sosialisasi.
Anak bisa memikirkan cara agar tidak bosan saat menunggu, seperti membaca atau berdiskusi; - Pemahaman sebab-akibat.
Anak belajar bahwa keterlambatan berdampak pada posisi antri; - Kesalehan sosial.
Antri mencerminkan hubungan yang baik antar sesama manusia (hablun minannas), bagian dari wujud iman dalam Islam.
Kondisi Budaya Antri di Indonesia

Sayangnya, di Indonesia masih banyak fenomena negatif terkait budaya antri seperti :
1) Orangtua memberi contoh buruk dengan menyuruh anak menyerobot antrian; 2) Budaya alasan seperti “anak masih kecil” digunakan untuk mengambil hak orang lain; dan 3) Ketidakterimaan atas teguran yang bahkan berujung pada konflik.
Ironisnya, perilaku tersebut dapat menjadi benih dari budaya korupsi, suap, dan politik transaksional, yang pada dasarnya bersumber dari ketidakmauan mengikuti aturan dan proses.
Budaya Antri sebagai Pendidikan Moral dan Nilai Pancasila

Budaya antri tidak hanya terkait etika sosial, tetapi juga merupakan bagian dari Implementasi Kurikulum Merdeka dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dalam P5, termasuk pembelajaran yang lebih yang relevan, adaptif dan bermakna : “Deep Learning” terhadap semua warga masyarakat.
Pelajar diarahkan menjadi individu yang beriman, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif—semua nilai ini dapat ditanamkan melalui kebiasaan mengantri.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan harus menumbuhkan karakter dan budi pekerti yang baik sebelum mengejar intelektualitas. Maka, antri adalah pendidikan karakter dalam praktik nyata.
Antri dan Masyarakat 5.0
Dalam konteks masyarakat 5.0, yaitu masyarakat yang menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kebutuhan sosial dan kemanusiaan (Keidanren, 2018), budaya antri menjadi parameter kecerdasan sosial. Masyarakat super pintar bukan hanya mahir teknologi, tetapi juga mampu hidup dalam tatanan sosial yang harmonis dan bermartabat.
Implikasi Bagi Pendidikan dan Keluarga
Budaya antri sebaiknya :
- Dimulai dari rumah, misalnya dengan antri mandi atau makan;
- Dilanjutkan di sekolah, seperti antri masuk kelas atau saat mengambil makanan di kantin;
- Dicontohkan oleh guru dan orang tua, karena anak meniru lebih cepat dari sekadar mendengar;
- Didukung oleh sistem pendidikan, dengan pendekatan berbasis karakter dan pembiasaan nilai-nilai moral sejak dini.
Kembali Secara Intensif Memahami Pusat Literasi Antara lain (Kesimpulan) :
Antri bukan sekadar aktivitas menunggu, melainkan “alat pembentuk karakter bangsa”. Dalam antri, terdapat pelajaran sabar, tertib, menghargai, disiplin, dan saling memahami. Penanaman budaya antri berarti membangun fondasi keadaban publik yang berkelanjutan. Tidak ada perubahan besar tanpa dimulai dari hal-hal kecil. Maka, mari kita mulai dari diri sendiri, dari hati yang tulus, ikhlas dan suci serta dari tindakan nyata. Karena antri dengan tertib itu : “KEREN”
Referensi :
- Dewantara, K. H. (1935). Pendidikan. Yogyakarta : Taman Siswa;
- Sjahrir Tamsi : Budaya ANTRI Merupakan Suatu Keniscayaan. Mamuju, 2022; Membangun Karakter Bangsa yang Utuh. Mamuju. 2023; Berpikir Kreatif dalam Kepemimpinan. Mamuju. 2023; Membangun Karakter Bangsa : Kreatif dan Inovatif di Era Digital. Mamuju, 2024;
Budaya Merupakan Pilar Karakter Bangsa, 2025.
Editor : Usman Laica.
