Makassar, independennews.id – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya peran media massa sebagai perekat persatuan bangsa sekaligus penjaga keseimbangan informasi di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan media sosial yang semakin pesat.

Hal tersebut disampaikan Menag dalam bincang-bincang bersama sejumlah media di Makassar, Sulawesi Selatan, yang turut dihadiri Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Selatan terpilih, Suwardi Thahir, Ahad (14/6).
Menurut Nasaruddin, media arus utama atau mainstream saat ini telah menunjukkan tingkat kematangan dan profesionalisme yang tinggi dalam menyajikan informasi kepada publik. Karena itu, masyarakat dinilai semakin mampu membedakan antara berita yang disajikan media profesional dengan informasi yang beredar di media sosial yang belum tentu melalui proses verifikasi.
“Media kita sudah sangat matang dan dewasa. Karena itu masyarakat bisa membedakan antara pemberitaan yang dibaca di media mainstream dengan yang beredar di media sosial,” ujar Nasaruddin.
Ia menekankan bahwa media, termasuk media sosial, seharusnya berfungsi sebagai sarana pemersatu bangsa, bukan justru menjadi pemicu perpecahan demi mengejar popularitas atau sensasi semata.
“Media sosial harus menjadi perekat, pemersatu bangsa dan pemersatu Indonesia. Jangan sampai karena mengejar pemberitaan yang dianggap seksi, justru mengorbankan persatuan dan kesatuan kita. Yang rugi adalah kita semua, termasuk para wartawan,” katanya.
Menag juga mengajak insan pers untuk tetap berpegang teguh pada idealisme jurnalistik dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Menurutnya, media tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial melalui kritik yang konstruktif dan berimbang.
“Kalau hanya memberikan pembenaran tanpa kritik, itu juga bukan media yang kritis. Kita perlu asas keseimbangan. Apa yang perlu diperbaiki disampaikan secara wajar dengan bahasa yang baik, tetapi juga harus memberikan apresiasi terhadap hal-hal yang memang sudah berjalan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menilai media memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat yang objektif terhadap berbagai kebijakan dan dinamika sosial. Melalui pemberitaan yang berimbang, masyarakat dapat memahami capaian yang patut diapresiasi sekaligus berbagai aspek yang masih memerlukan perbaikan.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyoroti kondisi Indonesia yang dinilainya memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ia menyebut stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, serta tingkat kerukunan masyarakat sebagai modal penting bagi kemajuan bangsa.
“Indonesia sekarang memiliki potensi yang luar biasa. Dari segi perekonomian, stabilitas nasional, hingga kerukunan masyarakat. Bahkan menurut berbagai data, kita berada pada salah satu puncak kerukunan yang belum pernah terjadi sejak republik ini merdeka,” ungkapnya.
Karena itu, Nasaruddin berharap media mainstream dapat terus menjalankan perannya sebagai penjaga objektivitas, penguat optimisme, dan mitra pembangunan bangsa. Menurutnya, berbagai capaian positif perlu dipertahankan dan dikembangkan, sementara kekurangan yang masih ada harus diperbaiki secara bersama-sama.

“Yang baik perlu kita teruskan, yang kurang baik perlu kita perbaiki bersama. Dengan demikian, Indonesia dapat terus melangkah menjadi negara besar yang maju dan tetap menjaga persatuan di tengah keberagamannya,” pungkasnya. (Usm)
