independennews.id — Di antara hiruk-pikuk zaman yang kian gaduh oleh klaim kebenaran, amarah, dan pertikaian simbolik, lagu “Untuk Kita Renungkan” karya Ebiet G. Ade hadir sebagai cermin sunyi yang mengajak bangsa ini berhenti sejenak, yakni menunduk, dan merenung; bukan untuk kalah, melainkan untuk jujur pada diri sendiri.
“Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih”
Begitulah pesan awal lagu ini. Sebuah metafora yang dalam, bukan tentang tubuh, melainkan tentang keberanian membersihkan batin dari debu kepentingan, ego, kebencian, dan fitnah. Sebelum bicara, sebelum menuduh, sebelum menghakimi, Kita diajak untuk menengok ke dalam, yakni: Sebuah ajakan langka di tengah budaya saling serang yang kini marak, bahkan sering mengatasnamakan kebenaran, agama, dan moralitas.
Indonesia hari ini sedang diuji dalam banyak lapis. Bencana alam datang silih berganti, krisis kemanusiaan mengetuk nurani, sementara bencana moral justru sering lahir dari tangan dan lisan manusia sendiri. Fitnah yang keji, penghinaan personal yang berulang, serta kekerasan simbolik di ruang publik dan tayangan di berbagai media elektronik dan sosial telah bergeser jauh dari semangat pencarian kebenaran atau kepentingan umum. Ia berubah menjadi tindakan tidak beretika, tidak beradab, dan kehilangan sopan santun, bahkan bertentangan dengan ajaran agama mana pun.
Dalam hubungan inilah, Ebiet G. Ade menegaskan:
“Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya.”
Kalimat ini bukan untuk mematikan nalar, tetapi untuk menghidupkan kesadaran. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada isyarat ilahi agar manusia kembali bercermin. Bencana bukan selalu hukuman, melainkan cambuk kecil agar Kita sadar: Sadar akan keserakahan, ketidakadilan, kebohongan, dan keberanian menista sesama tanpa rasa bersalah.
Jerit anak-anak, lahar panas, badai yang menyapu bersih: Semua digambarkan Ebiet bukan sebagai tontonan tragedi, melainkan teguran nurani kolektif.
Teguran bahwa dalam kekalutan, masih terlalu banyak tangan yang tega berbuat nista;
Terlalu banyak tindakan dan lisan yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas;
Terlalu banyak energi dihabiskan untuk merusak martabat orang lain, alih-alih membenahi diri sendiri.
Pada titik paling sunyi, lagu ini mengajukan pertanyaan paling jujur:
“Kemanakah lagi Kita ‘kan sembunyi?”
Ketika logika runtuh, argumen habis, dan topeng moral tersingkap, manusia hanya memiliki satu jalan pulang:
“Kembali kepada Tuhan.”
Bukan dengan teriakan, bukan dengan klaim kesalehan, tetapi dengan runduk dan sujud, tanda kerendahan Hati yang kini makin langka.
Pesan paling kuat dari lagu ini barangkali terletak pada ajakan terakhirnya:
“Kita mesti berjuang memerangi diri.”
Musuh terbesar bangsa ini bukan perbedaan, bukan keberagaman, melainkan ketidakmampuan mengendalikan ego dan nafsu untuk merasa paling benar. Berulang kali Kita diingatkan untuk bercermin; bukan mencari cela orang lain, tetapi memastikan
“Apakah Tuhan tersenyum atas sikap, kata, dan tindakan Kita.”
Opini ini bukan seruan untuk diam terhadap ketidakadilan, melainkan ajakan untuk menjaga adab dalam memperjuangkan kebenaran.
“Kritik tetap perlu, kontrol sosial tetap penting,” namun ketika ia berubah menjadi fitnah, penghinaan dan serangan secara personal, dan kekerasan simbolik yang merusak ruang dialog sehat, maka niscaya yang runtuh bukan hanya etika, tetapi juga masa depan kebangsaan.
Di tengah bencana alam, kemanusiaan, dan moral yang melanda negeri ini, “Untuk Kita Renungkan” adalah doa yang dinyanyikan dengan jujur. Ia mengingatkan bahwa Indonesia hanya akan pulih jika warganya bersedia membersihkan batin, merawat empati, dan mengembalikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan senjata.
“Semoga Kita masih mau bercermin.”
“Semoga Kita masih mampu menunduk.”
Dan semoga, di tengah segala hiruk-pikuk ini, Tuhan benar-benar tersenyum melihat ikhtiar Kita sebagai bangsa.”
Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim.
Penulis: YM. Sjahrir Tamsi (Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, dan Adat. DPD-FKN Prov. Sulbar).
