Jakarta, independennews.idPuncak perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu malam (16/8). Ribuan masyarakat dari berbagai daerah tumpah ruah menyambut perayaan akbar bertajuk Karnaval Bersatu, yang menampilkan ragam budaya, kemajuan bangsa, dan semangat persatuan dari Sabang sampai Merauke.

Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, bersama Wakil Presiden RI ke-14, Gibran Rakabuming Raka, hadir dalam acara tersebut, didampingi para menteri, Panglima TNI, Kapolri, serta tokoh-tokoh nasional lainnya. Monas pun berubah menjadi panggung kebangsaan tempat rakyat dan pemimpinnya menyatu dalam semangat perjuangan dan kebhinekaan.

Acara dibuka dengan pengumandangan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan dilanjutkan dengan penampilan Yura Yunita serta pertunjukan seni “Dari Sabang sampai Merauke”. Puncak kemeriahan ditandai dengan parade Kereta Kencana, marching band, kendaraan hias dari berbagai kementerian dan lembaga, serta atraksi budaya dari TNI-Polri.

Langit Monas kemudian dihiasi pesta kembang api megah bertajuk “Kembang Spi yang Mekar bagai Bunga Abadi”, yang disambut sorakan dan tepuk tangan masyarakat. Ribuan pasang mata menatap ke angkasa dengan harapan: Indonesia Terus Menyala.

Namun semarak di Ibu Kota bukan satu-satunya wujud perayaan kemerdekaan. Di seluruh pelosok negeri, dari kota besar hingga desa adat terpencil, rakyat turut memperingati kemerdekaan dengan cara mereka sendiri: lomba panjat pinang, arak-arakan obor, hingga doa adat bersama para tetua kampung.

Di berbagai tanah adat, perayaan berlangsung dalam nuansa sakral, menghubungkan sejarah leluhur dengan harapan masa depan. Ritual dan doa menjadi bagian dari refleksi makna kemerdekaan, seperti pesan abadi Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.”

Karnaval Bersatu menjadi simbol dari dua kekuatan Indonesia: modernisasi dan akar budaya lokal. Keduanya berpadu dalam satu napas: menjaga persatuan dan merawat kemerdekaan.

Perayaan tahun ini juga menjadi pengingat pentingnya pemerataan keadilan dan pembangunan. Bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya dirayakan di pusat kekuasaan, tetapi harus dirasakan hingga ke dusun-dusun terpencil, tempat api perjuangan masih menyala.

Arajang Binuang Mandar XVIII, Mara’dia Balanipa ke-55 dan Mara’dika Mamuju ke-17 Hadiri Upacara HUT ke-80 RI Tingkat Prov. Sulbar di Mamuju.

“Indonesia hanya akan besar jika persatuan tetap dijaga, dan hanya akan jaya jika keadilan sampai di seluruh penjuru negeri,” demikian salah satu pesan yang mengemuka dalam perayaan tersebut.

Salam budaya. Merdeka!

Penulis: YM. Sjahrir Tamsi

Editor: Usman Laica

By admin