{"id":7231,"date":"2026-02-20T13:29:24","date_gmt":"2026-02-20T13:29:24","guid":{"rendered":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231"},"modified":"2026-02-20T13:29:24","modified_gmt":"2026-02-20T13:29:24","slug":"jejak-peradaban-tanah-malaqbi-mandar-warisan-maritim-adat-dan-keberagaman-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231","title":{"rendered":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara"},"content":{"rendered":"\n<p><em>independennews.id<\/em> \u2014 Di jazirah barat Sulawesi, terbentang sebuah wilayah yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Tanah Mandar, atau lebih masyhur dengan sebutan Tanah Malaqbi atau tanah yang menjunjung tinggi kemuliaan, martabat, dan keluhuran budi. Malaqbi bukan sekadar istilah kultural, melainkan etos peradaban yang hidup, membentuk watak masyarakat Mandar hingga hari ini.<br>Jejak peradaban Tanah Malaqbi Mandar tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari perpaduan kekuatan maritim, adat, kearifan lokal, dan nilai-nilai Islam yang berkelindan secara harmonis. Inilah salah satu simpul penting peradaban Nusantara yang patut dipahami sebagai bagian utuh dari mozaik kebangsaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Konfederasi Kerajaan: Fondasi Peradaban Mandar<\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah Mandar bertumpu pada sistem konfederasi kerajaan yang unik dan visioner, dikenal sebagai Pitu Baqbana Binanga (tujuh kerajaan pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (tujuh kerajaan hulu sungai). Empat belas kerajaan ini, mulai dari Arayang Balanipa, Banggae, Pamboang, Sendana, Tappalang, Mamuju, hingga Arajang Binuang dan 7 kerajaan hulu yakni Rante Bulahan, Aralie, Mambi, Tabulahan, Matangnga, Bambang, Tabang. di wilayah pegunungan, kerajaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terikat dalam semangat persatuan dan musyawarah.<br \/>Model konfederasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Mandar sejak dini telah memiliki kesadaran geopolitik dan tata kelola kolektif, jauh sebelum konsep negara modern diperkenalkan. Kerajaan Balanipa, dengan figur legendaris I Manyambungi yang bergelar Todilaling, kerap disebut sebagai pusat pengaruh yang memainkan peran strategis dalam menjaga keseimbangan kekuasaan dan adat.<\/p>\n\n\n\n<p>Peradaban Maritim: Mandar dan Lautan<\/p>\n\n\n\n<p>Mandar adalah peradaban laut. Masyarakatnya dikenal sebagai pelaut ulung, penakluk gelombang, sekaligus perajin perahu tradisional yang andal. Sandeq, perahu layar Mandar yang ramping dan tangguh, menjadi simbol kejayaan bahari yang bukan hanya teknologis, tetapi juga filosofis yang melambangkan keberanian, kecermatan, dan keselarasan dengan alam.<br \/>Budaya maritim Mandar menempatkan laut bukan sebagai batas, melainkan ruang perjumpaan peradaban: perdagangan, dakwah, dan pertukaran budaya berlangsung secara dinamis, memperkaya identitas Mandar sebagai masyarakat terbuka dan adaptif.<\/p>\n\n\n\n<p>Jejak Purba dan Kesinambungan Sejarah<\/p>\n\n\n\n<p>Jejak peradaban Mandar juga terekam dalam peninggalan arkeologis. Situs megalitikum di beberapa tempat menandai keberadaan komunitas purba yang telah mengenal sistem kepercayaan dan struktur sosial awal. Koleksi Museum Mandar di Majene, dengan sejumlah artefak, mulai dari fosil batu hingga keramik kuno, menjadi bukti kesinambungan sejarah yang panjang dan berlapis.<br \/>Ini menegaskan bahwa Mandar bukanlah wilayah pinggiran sejarah, melainkan ruang peradaban aktif yang terus berkembang dan bertransformasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Malaqbi sebagai Etika Sosial<\/p>\n\n\n\n<p>Inti peradaban Mandar terletak pada nilai Malaqbi: &#8220;Mulia dalam Sikap, Rendah Hati dalam Laku, dan Bermartabat dalam Keputusan.&#8221; Nilai ini diwariskan melalui Pappasang atau pesan-pesan leluhur yang menekankan kejujuran, kecerdasan, keberanian, serta tanggung jawab moral terhadap sesama dan alam.<br \/>Nilai Malaqbi hidup dalam tradisi dan kesenian rakyat antara lain: Sayyang Pattuqduq, yang mengiringi khatam Al-Qur\u2019an; Tari Pattuqdu, sebagai simbol penghormatan; Tari Toerang Batu, tarian perang sakral dari Binuang; hingga Mappadendang, ritual syukur atas panen, dan Ma\u2019pande Manu\u2019, prosesi pernikahan adat yang sarat makna kebersamaan.<br \/>Semua ini menunjukkan bahwa budaya masyarakat Mandar bukan sekadar estetika, melainkan pendidikan karakter kolektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Islam Nusantara dan Harmoni Budaya<\/p>\n\n\n\n<p>Islam hadir di Tanah Malaqbi Mandar melalui proses panjang yang damai dan kultural. Nilai-nilai Islam menyatu dengan adat, memperkuat etika Malaqbi tanpa menghapus identitas lokal. Jejak ini nampak jelas dalam tradisi keagamaan, struktur sosial, hingga keberadaan Kampung Jawa di Wonomulyo, Polewali Mandar, sebuah simbol harmoni antarbudaya dan keterbukaan orang Mandar terhadap perbedaan atau Keberagaman Nusantara yang larut dalam menjaga Persatuan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Warisan untuk Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah tantangan globalisasi dan krisis nilai, Tanah Malaqbi Mandar menawarkan pelajaran penting bagi Indonesia: tentang persatuan dalam keberagaman, kepemimpinan berbasis moral, dan peradaban yang berakar pada kearifan lokal namun terbuka pada dunia.<br \/>Melestarikan Mandar berarti menjaga salah satu pilar peradaban Nusantara. Bukan untuk nostalgia, tetapi sebagai sumber inspirasi kebangsaan, bahwa Indonesia dibangun oleh nilai-nilai luhur dari daerah-daerah yang bermartabat.<br \/>Masyarakat Mandar adalah cermin bahwa peradaban besar lahir dari Tanah Malaqbi atau tanah yang menjunjung tinggi kemuliaan, martabat, dan keluhuran budi, membangun kehidupan dengan mengarungi lautan, melestarikan adat, dengan penuh keyakinan dan iman yang kuat, berpadu dalam keindahan, keteguhan, dan kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim.<br>Penulis: YMT. Sjahrir Tamsi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>independennews.id \u2014 Di jazirah barat Sulawesi, terbentang sebuah wilayah yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Tanah Mandar, atau lebih masyhur dengan sebutan Tanah Malaqbi atau tanah yang menjunjung tinggi kemuliaan, martabat, dan keluhuran budi. Malaqbi bukan sekadar istilah kultural, melainkan etos peradaban yang hidup, membentuk watak masyarakat Mandar hingga hari ini.Jejak peradaban Tanah Malaqbi Mandar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7230,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-7231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/independennews.id\/?p=7231\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"independennews.id \u2014 Di jazirah barat Sulawesi, terbentang sebuah wilayah yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Tanah Mandar, atau lebih masyhur dengan sebutan Tanah Malaqbi atau tanah yang menjunjung tinggi kemuliaan, martabat, dan keluhuran budi. Malaqbi bukan sekadar istilah kultural, melainkan etos peradaban yang hidup, membentuk watak masyarakat Mandar hingga hari ini.Jejak peradaban Tanah Malaqbi Mandar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/independennews.id\/?p=7231\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"independennews.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-20T13:29:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"380\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493\"},\"headline\":\"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara\",\"datePublished\":\"2026-02-20T13:29:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231\"},\"wordCount\":660,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg\",\"articleSection\":[\"ARTIKEL\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231\",\"name\":\"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg\",\"datePublished\":\"2026-02-20T13:29:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg\",\"width\":400,\"height\":380},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=7231#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\",\"name\":\"independennews.id\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\",\"name\":\"independennews.id\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/cropped-independennews.id_.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/cropped-independennews.id_.png\",\"width\":1149,\"height\":217,\"caption\":\"independennews.id\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/independennews.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id","og_description":"independennews.id \u2014 Di jazirah barat Sulawesi, terbentang sebuah wilayah yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Tanah Mandar, atau lebih masyhur dengan sebutan Tanah Malaqbi atau tanah yang menjunjung tinggi kemuliaan, martabat, dan keluhuran budi. Malaqbi bukan sekadar istilah kultural, melainkan etos peradaban yang hidup, membentuk watak masyarakat Mandar hingga hari ini.Jejak peradaban Tanah Malaqbi Mandar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231","og_site_name":"independennews.id","article_published_time":"2026-02-20T13:29:24+00:00","og_image":[{"width":400,"height":380,"url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/person\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493"},"headline":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara","datePublished":"2026-02-20T13:29:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231"},"wordCount":660,"publisher":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg","articleSection":["ARTIKEL"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231","url":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231","name":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara - independennews.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg","datePublished":"2026-02-20T13:29:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/independennews.id\/?p=7231"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#primaryimage","url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/05189782-0397-4340-9973-22730314784b-2.jpg","width":400,"height":380},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=7231#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/independennews.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jejak Peradaban Tanah Malaqbi Mandar: Warisan Maritim, Adat, dan Keberagaman Nusantara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/independennews.id\/#website","url":"https:\/\/independennews.id\/","name":"independennews.id","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/independennews.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization","name":"independennews.id","url":"https:\/\/independennews.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/cropped-independennews.id_.png","contentUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/cropped-independennews.id_.png","width":1149,"height":217,"caption":"independennews.id"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/person\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["http:\/\/independennews.id"],"url":"https:\/\/independennews.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7232,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7231\/revisions\/7232"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7230"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}