{"id":4281,"date":"2025-08-09T04:48:21","date_gmt":"2025-08-09T04:48:21","guid":{"rendered":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281"},"modified":"2025-08-09T04:51:14","modified_gmt":"2025-08-09T04:51:14","slug":"raja-sultan-arung-maradia-tomakaka-dan-tokoh-masyarakat-adat-pilar-kebangsaan-dalam-sejarah-kemerdekaan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281","title":{"rendered":"Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Oleh : Sjahrir Tamsi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>independennews.id<\/em> \u2014 Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil Perjuangan Satu golongan semata, melainkan buah dari semangat Kolektif seluruh elemen bangsa termasuk para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat yang selama ini kerap luput dari sorotan sejarah arus utama. Mereka tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga memainkan peran kunci dalam &#8220;Membangun Persatuan Bangsa, Memperjuangkan Kemerdekaan secara Fisik maupun Diplomatis, serta Menjaga Marwah Budaya Nusantara yang Majemuk&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Simbol Perlawanan yang Tak Pernah Padam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak Era Penjajahan, para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat di berbagai wilayah Nusantara telah menunjukkan keberanian luar biasa dalam melawan dominasi kolonial. Sosok seperti Sisingamangaraja XII dari Tapanuli dan Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi merupakan representasi nyata Pemimpin Adat yang &#8220;Tidak Mau Tunduk kepada Kekuasaan Asing&#8221;. Mereka memimpin perlawanan bersenjata dengan semangat tak kenal lelah, mempertahankan martabat rakyatnya meski harus gugur sebagai syuhada kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberanian mereka bukan hanya menginspirasi rakyat saat itu, tetapi juga menjadi &#8220;Teladan bagi Generasi Pejuang Berikutnya&#8221;. Perlawanan ini menanamkan Benih Perlawanan Nasional yang tumbuh subur hingga Proklamasi 17 Agustus 1945.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perekat Persatuan dan Pelopor Integrasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peran para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat dalam Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tidak berhenti sebagai Pemimpin Lokal, namun juga sebagai:Penjaga Integritas Wilayah dan Persatuan Bangsa&#8221;. Sultan Agung dari Mataram misalnya, bukan hanya Penguasa Besar di Jawa, tetapi juga Pemersatu Budaya dan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selepas Proklamasi, Pemimpin seperti Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Syarif Kasim II &#8220;Menunjukkan Kebesaran Jiwa dengan Mengintegrasikan Wilayah Kekuasaannya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)&#8221;. Keputusan mereka bukan semata Langkah Politis, melainkan &#8220;Bukti Rasa Kebangsaan yang Tinggi&#8221;. Sultan Syarif Kasim II bahkan &#8220;Menyerahkan Seluruh Harta Kekayaannya untuk Mendukung Perjuangan Republik yang Baru Berdiri&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pejuang Fisik dan Diplomat Bangsa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat yang tidak hanya berkutat di ranah simbolik, tetapi turun langsung dalam Perjuangan Fisik. Raja Haji Fisabilillah, misalnya, merupakan Pemimpin Perang Laut melawan VOC di wilayah Riau dan sekitarnya.<br \/>Sultan Hasanuddin dari Gowa dikenal sebagai &#8220;Ayam Jantan dari Timur&#8221; karena Kegigihannya Melawan Dominasi Belanda di Sulawesi Selatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, Tokoh seperti Sultan Hamengkubuwono IX juga dikenal karena Kepiawaiannya dalam Diplomasi dan Strategi Politik. Ia memainkan peran penting dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai Ibu Kota Darurat Republik saat Ibu Kota Jakarta diduduki Belanda, sekaligus Memberi Perlindungan kepada para Pemimpin Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perempuan Adat yang Tangguh:  Ibu Agung Hj. Andi Depu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perjuangan para Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat tidak hanya didominasi oleh kaum laki-laki. Di tanah Malaqbi Mandar, Sulawesi Barat, sosok Ibu Agung Hj. Andi Depu, Arayang\/Mara&#8217;dia atau Raja Balanipa ke-52 menjadi simbol Keberanian Perempuan Indonesia. Sebagai Pemimpin Masyarakat dan Pejuang Kemerdekaan, Ibu Agung Hj. Andi Depu aktif menentang pendudukan Jepang dan menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan ke berbagai pelosok Tanah Malaqbi Mandar pada tahun 1945. Ia adalah simbol Perempuan Adat yang Cerdas, Pemberani, dan Visioner dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Bangsanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu Agung Hj. Andi Depu merupakan seorang &#8220;Pahlawan Nasional&#8221; wanita asal Tanah Malaqbi Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal atas Jasa dan Keberaniannya dalam melawan penjajah di Tanah Malaqbi Mandar.<br \/>Saat masa pendudukan Jepang, Ibu Agung Hj. Andi Depu turut memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya itu, melalui organisasi Badan Perjuangan dan Aktivitas Gerilya, ia melakukan Perlawanan terhadap NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Sulawesi pada periode 1945 &#8211; 1950.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu Agung Hj. Andi Depu diketahui memiliki garis Keturunan Bangsawan di Tanah Malaqbi Mandar, yang disebut sebagai Todziang Laiyyana (atau Orang yang Berdarah Biru).<br \/>Ayahnya merupakan seorang PYM. Raja Balanipa Mandar ke-50 yang bernama La&#8217;ju Kanna Doro, sedangkan ibunya bernama Samaturu atau biasa dipanggil Kinena, kemudian melahirkan Andi Depu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pallabuang menikah dengan Andi Kalluaya dari Palanro melahirkan Andi Baso Pabiseang Siujiranna.<br \/>Ibu Agung, Hj. Andi Depu melahirkan Andi Baso Parenrengi Depu. (YM. Andi Harun Rasyid Parenrengi, S.Sos., MM. 2025).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat menginjak usia 15 tahun, Andi Depu dijodohkan dan menikah dengan Andi Baso Pabiseang, seorang Putra Bangsawan bernama Pammase, keturunan dari Ibaso Boroa bergelar Tokape. Dari perkawinan itu, keduanya dikarunia seorang putra semata wayang yang diberi nama Andi Parenrengi Depu, yang lahir pada tahun 1925.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah pernikahannya, beberapa tahun kemudian, Andi Baso Pawiseang kemudian diangkat menjadi pejabat Arayang\/Mara&#8217;dia Balanipa (Raja) yang ke-51. Ia menggantikan mertuanya yang meninggal dunia saat melakukan perjalanan haji ke Makkah.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, jabatan yang didudukinya itu tak berlangsung lama. Ketika Jepang kalah dan pemerintahan Afdeling kembali diambil alih oleh Belanda, rakyat dan sebagian besar Lembaga Hadat Sappulo Sokko mendesak Lembaga Adat Appe Banua Kaiyyang untuk meminta Andi Baso Pawiseang segera mengundurkan diri dari jabatannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lembaga Adat Appe&#8217; Banua Kaiyyang bersama anggota Hadat Sappulo Sokko yang memihak kepada perjuangan lalu kemudian meminta Andi Depu untuk menjadi Arayang Balanipa ke-52. Atas desakan dari Rakyat dan para Pejuang, Ibu Agung Andi Depu pun setuju untuk menjabat sebagai Arayang\/Mara&#8217;dia atau Raja Balanipa.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengangkatannya pun kemudian mengukir sejarah. Sebab, untuk pertama kalinya ada seorang wanita di Tanah Malaqbi Mandar khususnya di Kerajaan Balanipa yang menjadi Arayang\/Mara&#8217;dia atau Raja.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perjuangan Andi Depu Melawan Belanda di Mandar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah kekalahan Jepang, Andi Depu turut menyebarkan berita Kemerdekaan Indonesia di wilayah Tanahalaq Mandar pada tahun 1945. Namun, pasca Proklamasi, Sekutu kembali datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika itu, sekitar tahun 1945, tentara Sekutu mendarat di Tanah Malaqbiq Mandar dan melakukan berbagai aksi penggeledahan dan penangkapan. Salah satu wilayah yang menjadi target pihak Belanda adalah Tinambung Balanipa.<\/p>\n\n\n\n<p>Wilayah yang berada di bawah Kepemimpinan Andi Depu dan Kebaktian Rahasia Islam (KRIS) Muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika tentara Sekutu datang, mereka berniat untuk menurunkan &#8220;Bendera Merah Putih&#8221; yang berkibar di Istana Arayang Balanipa. Namun, hal itu segera dicegat oleh Andi Depu. Sebelum sang &#8220;Merah Putih&#8221; diturunkan, Andi Depu bergegas lari ke &#8220;Tiang Bendera&#8221; dan memeluknya rapat-rapat.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibu Agung ini kemudian memberikan peringatan kepada tentara Belanda. Dengan suara lantang, ia berkata &#8220;Tuan-tuan Jangan Coba-coba Menurunkan Bendera ini, dan Jikalau Tetap Dipaksakan, maka Tembaklah Saya, Baru Bisa Diturunkan&#8221;.<br \/>Di sisi lain, Rakyat yang mengetahui adanya Insiden itu segera berdatangan. Akibat rasa takut berhadapan dengan massa, membuat &#8220;Tentara Belanda&#8221; : Memutuskan untuk Segera Meninggalkan Tempat itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menghargai Warisan, Membangun Masa Depan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat peran historis para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat adalah bagian penting dari upaya Membangun Narasi Sejarah yang Inklusif dan Adil. Mereka adalah Pilar Kebangsaan yang turut menopang berdirinya Republik Indonesia, bukan sekadar penonton dari pinggiran.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengakuan terhadap Kontribusi mereka tidak hanya penting untuk kepentingan sejarah, tetapi juga untuk Membangun Kesadaran Generasi Muda tentang Arti Perjuangan, Pengorbanan, dan Persatuan dalam Keberagaman. Mereka bukan hanya Tokoh Masa Lalu, tetapi juga Inspirasi Masa Depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemerdekaan Indonesia bukan semata hasil dari Perjuangan para Politik Elite Nasional, tetapi juga Buah dari Kearifan Lokal yang Dipelihara dan Diperjuangkan oleh para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat dari seluruh penjuru Nusantara. Menghargai mereka adalah bagian dari &#8220;Menghargai Jati Diri Bangsa&#8221;. Sudah saatnya sejarah mencatat mereka bukan hanya sebagai &#8220;Simbol, tetapi sebagai Pejuang Sejati Kemerdekaan Indonesia&#8221;.<br \/>Merdeka..!<\/p>\n\n\n\n<p><em>Referensi :<\/em><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200\u20132008. Jakarta: Serambi;<\/li>\n\n\n\n<li>Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Tokoh-Tokoh Adat dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia;<\/li>\n\n\n\n<li>Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. (2021). Peran Tokoh Adat dalam Pembentukan Nilai-Nilai Pancasila;<\/li>\n\n\n\n<li>Wawancara dengan Cucu langsung Ibu Agung Hj. Andi Depu : YM. Andi Harun Rasyid Parenrengi Depu, S.Sos., MM. 2025.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Editor : Usman Laica<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Sjahrir Tamsi independennews.id \u2014 Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil Perjuangan Satu golongan semata, melainkan buah dari semangat Kolektif seluruh elemen bangsa termasuk para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat yang selama ini kerap luput dari sorotan sejarah arus utama. Mereka tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4280,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-4281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Raja, Sultan, Arung, Mara&#039;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/independennews.id\/?p=4281\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Raja, Sultan, Arung, Mara&#039;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Sjahrir Tamsi independennews.id \u2014 Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil Perjuangan Satu golongan semata, melainkan buah dari semangat Kolektif seluruh elemen bangsa termasuk para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat yang selama ini kerap luput dari sorotan sejarah arus utama. Mereka tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/independennews.id\/?p=4281\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"independennews.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-09T04:48:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-09T04:51:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1553\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1553\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493\"},\"headline\":\"Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia\",\"datePublished\":\"2025-08-09T04:48:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-09T04:51:14+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281\"},\"wordCount\":1211,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg\",\"articleSection\":[\"ARTIKEL\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281\",\"name\":\"Raja, Sultan, Arung, Mara'dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg\",\"datePublished\":\"2025-08-09T04:48:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-09T04:51:14+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg\",\"width\":1553,\"height\":1553},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?p=4281#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\",\"name\":\"independennews.id\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#organization\",\"name\":\"independennews.id\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/cropped-independennews.id_.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/cropped-independennews.id_.png\",\"width\":1149,\"height\":217,\"caption\":\"independennews.id\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/independennews.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/independennews.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Raja, Sultan, Arung, Mara'dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Raja, Sultan, Arung, Mara'dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id","og_description":"Oleh : Sjahrir Tamsi independennews.id \u2014 Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil Perjuangan Satu golongan semata, melainkan buah dari semangat Kolektif seluruh elemen bangsa termasuk para PYM. Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan YM. Tokoh Masyarakat Adat yang selama ini kerap luput dari sorotan sejarah arus utama. Mereka tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga [&hellip;]","og_url":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281","og_site_name":"independennews.id","article_published_time":"2025-08-09T04:48:21+00:00","article_modified_time":"2025-08-09T04:51:14+00:00","og_image":[{"width":1553,"height":1553,"url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/person\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493"},"headline":"Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia","datePublished":"2025-08-09T04:48:21+00:00","dateModified":"2025-08-09T04:51:14+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281"},"wordCount":1211,"publisher":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg","articleSection":["ARTIKEL"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281","url":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281","name":"Raja, Sultan, Arung, Mara'dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia - independennews.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg","datePublished":"2025-08-09T04:48:21+00:00","dateModified":"2025-08-09T04:51:14+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/independennews.id\/?p=4281"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#primaryimage","url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg","contentUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/7a3f9d4a-c663-45a9-9877-bcf6cad8fcf6.jpg","width":1553,"height":1553},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/independennews.id\/?p=4281#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/independennews.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Raja, Sultan, Arung, Mara&#8217;dia, Tomakaka dan Tokoh Masyarakat Adat: Pilar Kebangsaan dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/independennews.id\/#website","url":"https:\/\/independennews.id\/","name":"independennews.id","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/independennews.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/independennews.id\/#organization","name":"independennews.id","url":"https:\/\/independennews.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/cropped-independennews.id_.png","contentUrl":"https:\/\/independennews.id\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/cropped-independennews.id_.png","width":1149,"height":217,"caption":"independennews.id"},"image":{"@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/independennews.id\/#\/schema\/person\/c41af49098bce985dc9d5a2b7c86a493","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cee70a6da372fbd73298373a88144de257e384574408ea8ac1f5de3d9202e637?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["http:\/\/independennews.id"],"url":"https:\/\/independennews.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4281"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4285,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4281\/revisions\/4285"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/independennews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}