Oleh : Sjahrir Tamsi.

Pendidikan adalah jantung pembangunan bangsa. Namun dalam praktiknya, sistem pendidikan Indonesia masih menghadirkan berbagai persoalan seperti tekanan akademik yang berlebihan, ketimpangan akses pendidikan, hingga praktik pembelajaran yang mengabaikan kesejahteraan emosional Peserta Didik. Kondisi ini menuntut adanya Reformasi Sistem Pembelajaran yang menyeluruh dan bermakna.

Mengapa Reformasi Sistem Pembelajaran Itu Mendesak..?

Reformasi Sistem Pembelajaran bukan sekadar mengganti kurikulum, akan tetapi merupakan upaya strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Fokusnya adalah menciptakan pembelajaran dengan pendekatan “PAIKEM” singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Ini merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif Peserta Didik, pemikiran kritis, inovasi, serta pengalaman belajar yang menyenangkan dan efektif serta menyejukkan hati seluruh ekosistem pendidikan antara lain : Peserta Didik, Pendidik, dan Masyarakat.

Makna Pembelajaran yang Menyejukkan Hati.

Konsep “Menyejukkan Hati” dalam pembelajaran mencakup lebih dari sekadar keramahan. Ini adalah pendekatan yang :
1) Menghargai perbedaan dan keberagaman; 2) Membangun komunikasi empatik antara Pendidik dengan Peserta Didik; 3) Mendorong pertumbuhan potensi secara holistik—kognitif, afektif, dan psikomotorik; 4) Menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bebas dari kekerasan fisik dan verbal.

Konsep ini sejalan dengan prinsip pendidikan humanistik dari Paulo Freire (1970), yang menekankan bahwa pendidikan sejatinya adalah jalan menuju pembebasan, bukan penindasan.

Empat Alasan Utama Mendesaknya Reformasi Pembelajaran.

  1. Krisis Kesehatan Mental Anak dan Remaja.
    Data UNICEF Indonesia (2021) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja mengalami gangguan kesehatan mental, akibat tekanan akademik, kekerasan di Satuan Pendidikan, dan kurangnya dukungan emosional;
  2. Ketimpangan Akses dan Kualitas Pendidikan.
    Meskipun akses meningkat, kesenjangan kualitas antar wilayah masih nyata, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Hal ini menciptakan ketidakadilan pendidikan yang sistemik;
  3. Tantangan Pendidikan di Era Digital.
    Transformasi digital membawa tantangan baru : Peserta Didik mudah terpapar disinformasi dan kecanduan digital tanpa arahan etis. Reformasi harus mampu mengarahkan penggunaan teknologi secara sehat dan bermakna;
  4. Tuntutan Pendidikan Abad ke-21.
    Pembelajaran di abad ke-21 menuntut penanaman kompetensi berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas dan inovatif. Ini tak dapat dicapai dengan metode satu arah dan keras. Diperlukan suasana belajar yang menyenangkan dan memupuk rasa ingin tahu.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Menyejukkan Hati.

  1. Berbasis Kasih.
    Sayang dan Empati
    Pendidik tidak hanya sebagai Pengajar, akan tetapi juga Pengasuh nilai dan Pelindung emosi Peserta Didik;
  2. Kurikulum Kontekstual dan Adaptif.
    Pendekatan seperti project-based learning, inquiry-based learning, dan social-emotional learning perlu diperluas untuk menjawab realitas kehidupan Peserta Didik;
  3. Satuan Pendidikan sebagai Zona Aman dan Ramah Anak
    Perlindungan dari segala bentuk kekerasan harus dijamin. Satuan Pendidikan atau Sekolah harus menjadi tempat nyaman untuk tumbuh dan berkembang;
  4. Pelibatan Orang Tua dan Komunitas
    Reformasi Pembelajaran tak akan berhasil tanpa kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Gotong royong menjadi kunci membangun ekosistem pendidikan yang sehat.

Program Prioritas Nasional.

Pendidikan Bermutu untuk Semua.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Kabinet Merah Putih 2024–2029, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Pd., merumuskan tiga program prioritas : 1) Gerakan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, fokus pada pembentukan karakter positif Peserta Didik; 2) Digitalisasi Satuan Pendidikan yang Etis dan Humanis; 3) Penguatan Kesejahteraan Guru dan Tenaga Kependidikan demi terwujudnya pembelajaran yang dilandasi ketulusan hati.

Inovasi utama dari program ini adalah konsep “Pembelajaran Menyejukkan Hati” yang mengintegrasikan pendekatan psikososial dalam proses pembelajaran.

Dukungan Riset dan Praktik Terbaik.

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, dalam risetnya (2021) menjelaskan bahwa suasana belajar yang penuh kasih dan menyenangkan mendorong perkembangan fungsi eksekutif otak anak, seperti memori kerja dan kontrol impuls. Artinya, kebahagiaan dalam belajar bukan sekadar nilai tambah, ia adalah prasyarat efektivitas belajar.

Inspirasi dari Ki Hadjar Dewantara.

Pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara, menyebut konsep pendidikan sebagai “Taman” artinya : tempat yang teduh, asri, dan menyenangkan. Pendidikan bukan hanya soal akademik, akan tetapi juga soal pengasuhan dan pembentukan Hati yang Bahagia.
Di taman, anak-anak akan merasa gembira, aman, dan nyaman, itulah gambaran ideal pendidikan.

Menuju Sekolah Bahagia (Happy Schools).

Untuk menciptakan Gerakan Nasional Sekolah Bahagia, dibutuhkan frekuensi yang sama antara semua unsur pendidikan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Mendesain Satuan Pendidikan yang Bahagia dan menyejukkan Hati;
  2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan dengan semangat, integritas, dan disiplin tinggi serta mampu menciptakan suasana yang menyenangkan;
  3. Praktik pembelajaran yang aman, menyenangkan, dan bebas tekanan;
  4. Peserta Didik yang penuh semangat dan siap mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila (P5) secara utuh. (Sjahrir Tamsi, 2023. Kepala SMKN Sulbar/Industri Kakao Periode Tahun Pelajaran 2014/2015-2018/2019 dan Kepala UPTD SMKN 1 Tapapalang Barat Periode Tahun Pelajaran 2020/2021-2024/2025).

Prof. Dr. Zudan Arif Fakrullah, SH, MH. 2024, Pj. Gubernur Sulbar (2023–2024) pada suatu kesempatan menyatakan bahwa :
“Berharap semua Peserta Didik mendapatkan suasana gembira dan bahagia saat belajar. Kepala Satuan Pendidikan, Guru, dan Pengawas harus membangun frekuensi yang sama agar sistem pembelajaran menciptakan kebahagiaan dan keceriaan Peserta Didik pada seluruh Satuan Pendidikan di Sulawesi Barat.”

Dengan proses pembelajaran yang membahagiakan “Berbasis Cinta dan Kasih Sayang”, menghargai Peserta Didik sebagai pribadi yang unik, maka niscaya Peserta Didik merasa dicintai dan dihargai eksistensinya. Peserta Didik merasa ”Dimanusiakan” dan ini sungguh menyenangkan dan membahagiakan kita semua apabila dilakukan dengan sepenuh hati. Kenapa dengan Hati..? Oleh karena sesungguhnya dari “Hati” lah semua ketulusan berawal dan bermulanya suatu keikhlasan untuk bisa menerima segala sesuatu apa adanya dan mensyukuri apa yang ada. Ketika manusia punya masalah, Allah punya solusi. Manusia punya kendala, Allah punya kendali.
Tugas Manusia mengangkat kedua tangan dengan senantiasa berdo’a, biarkan Allah SWT yang turun tangan untuk mengabulkannya. Dan
amal yang paling disukai Allah SWT yaitu ketika seseorang memberikan kebahagiaan dan kedamaian Hati kepada orang lain, bisa saja berupa mengayomi, penuh kasih sayang, tulus, penuh empati, bersahabat, terbuka, menyemangati, mengampuni, partisipatif yang dimanifestasikan berupa bantuan moril dapat pula berupa intervensi Guru Bimbingan dan Konseling di Satuan Pendidikan dengan memberikan semangat hidup dan bantuan tenaga atau fisik serta bantuan lainnya yang relevan dan menjadi alternatif solusi dengan kebutuhan dan permasalahan orang lain (Peserta Didik), sehingga niscaya kemudian akan terlepas dari semua keruwetan dan masalahnya. “May Peace Abide in Our Heart.”

Kembali Secara Intensif Memahami Pusat Literasi Antara lain (Kesimpulan) :
Mendidik dengan Cinta, Mendidik untuk Bahagia.

Kebahagiaan dalam pembelajaran adalah kunci keberhasilan pendidikan. Peserta Didik yang merasa dicintai, dihargai, dan dimanusiakan akan lebih aktif, sehat secara mental, dan berprestasi.
Peserta Didik adalah pribadi unik yang tidak bisa dipaksakan mengikuti cara berpikir orang dewasa. Maka, mendidiklah dengan cinta dan kasih sayang. Oleh karena, itulah jalan menuju pendidikan yang memanusiakan, membahagiakan dan menyenangkan Hati kita semua.

Reformasi Pembelajaran yang Menyejukkan Hati untuk Semua adalah suatu “Keniscayaan.” Ia merupakan jembatan menuju pendidikan yang Inklusif, Adil, dan Membahagiakan. Melalui sinergi antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Satuan Pendidikan, Guru, Orang tua Peserta Didik, dan Masyarakat, cita-cita menghadirkan Satuan Pendidikan atau Sekolah sebagai tempat terbaik bagi tumbuhnya generasi Indonesia yang cerdas, santun, dan berdaya saing, dapat tercapai.

Pendidikan sejatinya adalah sebuah proses Mencintai Anak Manusia yang “Beragam,” sebagaimana semboyan bangsa Indonesia yang tercantum pada lambang negara Garuda Pancasila.  “Bhinneka Tunggal Ika,” yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua.” Semboyan ini menggambarkan keberagaman suku, agama, budaya, dan ras di Indonesia, namun tetap bersatu dalam satu kesatuan bangsa. Bukan Memaksa mereka menjadi “Seragam.”

Polewali Mandar, 2 Juni 2025.
Editor : Usman Laica.

By admin