Jakarta, independennews.id — Perusahaan penyedia layanan transportasi daring seperti Grab Indonesia dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menegaskan bahwa mereka tidak berencana mengubah status para pengemudi ojek online (ojol) dari mitra menjadi karyawan tetap. Kedua perusahaan menilai, status kemitraan lebih sesuai dengan kebutuhan ekosistem dan para pengemudi itu sendiri.
Presiden Unit Bisnis On-Demand Services GoTo, Catherine Hindra Sutjahyo, menyebutkan bahwa model kemitraan menawarkan fleksibilitas kerja yang tinggi, sehingga mampu menarik lebih banyak individu untuk bergabung dan memperoleh penghasilan tambahan.
“Ini model yang menarik karena memberikan fleksibilitas terhadap ekosistem dan bisa menyerap lebih banyak orang yang ingin mencari pendapatan lebih. Kami yakin ini bisa menciptakan jutaan lapangan kerja. Di sinilah kekuatan dari fleksibilitas itu,” ujar Catherine dalam sebuah acara di Jakarta, Senin (19/0/2025).
Sementara itu, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, memaparkan sejumlah dampak negatif yang akan muncul apabila pengemudi ojol diubah statusnya menjadi karyawan tetap.
Menurutnya, perubahan tersebut akan menambah beban operasional perusahaan secara signifikan. Hal ini berisiko membuat perusahaan tidak mampu menyerap seluruh mitra pengemudi yang saat ini jumlahnya mencapai jutaan orang.
“Kalau jadi karyawan, tentu ada hak dan kewajiban. Artinya, perusahaan tidak akan bisa menyerap semua pengemudi. Kalau sisanya terpaksa dikurangi, lalu mereka mau ke mana?” ungkap Tirza.
Ia juga menyoroti potensi hilangnya fleksibilitas bagi pengemudi. Sebagai karyawan, mereka akan terikat jam kerja tetap dan harus melalui proses seleksi ketat, yang bisa menyulitkan banyak calon pekerja.
“Sekarang ini semua orang bisa jadi mitra pengemudi dengan mudah. Kalau jadi karyawan, ada seleksi dan aturan yang membuat orang jadi sulit masuk. Sementara banyak dari mereka tidak punya alternatif pekerjaan lain,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tirza menilai bahwa status karyawan bagi pengemudi ojol juga bisa mengganggu keberlangsungan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada layanan transportasi daring.
“Sekitar 90 persen merchant kami adalah UMKM — warung ayam geprek, soto, bakso. Kalau sistem ini berubah dan mengganggu keberlangsungan pengemudi, maka akan berimbas juga ke UMKM. Padahal saat ini mereka sedang tumbuh berkat ekosistem yang ada,” pungkasnya.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Grab dan Gojek tetap memilih mempertahankan skema kemitraan yang dianggap paling cocok dengan karakteristik industri dan kebutuhan para pengemudi.
