Oleh: YM. Sjahrir Tamsi
Salah satu hadits populer yang kerap digunakan oleh para Khatib dan Da’i adalah hadits yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina.” Benarkah ada hadits yang demikian?
Hadits tersebut diketahui bersumber dari Anas bin Malik RA. Hadits tersebut juga termaktub dalam tulisan Ibnu ‘Addi dalam Al Kamil, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan, Al Khathib dalam Tarikh Baghdadh, Al Baihaqiy dalam Al Madkhal, dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Jami’.
Berikut bunyi hadits yang dimaksud :
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.”
Sementara, dikutip dari Hadits Tarbawi oleh Abu Ubaidah, hadits tersebut merupakan potongan dari hadits lengkap yang berbunyi :
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ فَإِنَّ الْعِلْمَ فَرِضَة عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَضَعُ أَجْنَحَتِهَا لِطَلِبِ رِضَا عًا بِمَا يَطْلُبُ
Artinya : “Carilah ilmu sekalipun di negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan. Dan sesungguhnya para malaikat menaungkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap amal perbuatannya.”

Ungkapan “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina” adalah pepatah yang sangat dikenal di Indonesia dan mengandung makna motivasi agar seseorang tidak ragu-ragu untuk mencari ilmu meskipun harus pergi jauh. Pepatah ini menggambarkan semangat menuntut ilmu yang tinggi dan apresiasi terhadap kualitas pendidikan, bahkan jika harus menempuh perjalanan panjang ke negeri yang jauh. Cina, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, telah lama dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Saat ini, Cina juga menempati posisi penting dalam sistem pendidikan global. Tulisan ini akan mengkaji kolerasi antara pepatah tersebut dengan isu-isu terkini pendidikan di Cina.
Perkembangan Pendidikan di Cina
Pendidikan di Cina telah mengalami transformasi signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Menurut laporan dari “Organisation for Economic Co-operation and Development” (OECD), pendidikan di Cina, terutama di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing, menunjukkan performa yang sangat baik dalam penilaian internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Cina telah berhasil mengembangkan sistem pendidikan yang berfokus pada pengetahuan sains dan matematika yang unggul, dan ini menjadikannya salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.
Sekolah Unggul di Cina
Cina juga menerapkan sekolah unggulan sebagai salah satu upaya untuk membina Peserta Didik berprestasi. Salah satu contoh sekolah unggulan di Cina adalah 101 Middle School di Beijing, yang merupakan almamater Presiden Xi Jinping, serta banyak tokoh berpengaruh lainnya yang pernah bersekolah di sini. Sekolah ini dibangun sejak era kerajaan dan memiliki akses langsung ke taman kerajaan, menunjukkan bahwa sejak dulu, Cina telah menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk membangun sumber daya manusia unggul. Sekolah-sekolah unggulan seperti ini menjadi model bagi sistem pendidikan di Cina dalam membina talenta terbaik untuk masa depan negaranya.
Pendidikan di Cina dan Budaya Kerja Keras
Pendidikan di Cina menekankan karakter dan budaya kerja keras namun cerdas. Peserta Didiknya diharapkan belajar hampir 20 jam per hari (20 jam sehari), termasuk di saat mereka pulang ke rumah. Etos kerja keras ini dibangun sejak usia dini dan terus dipelihara, untuk menanamkan kesadaran kepada bangsa Cina bahwa hanya kerja keras dan menjadi cerdaslah mereka dapat memenangkan persaingan di tingkat global. Budaya ini juga tercermin dari pola pendidikan yang sangat kompetitif, terutama pada ujian nasional “Gaokao” yang menjadi penentu utama untuk masuk ke Perguruan Tinggi.
Isu-Isu Terkini Pendidikan di Cina
Cina menghadapi berbagai tantangan dalam sektor pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan teknologi. Salah satu isu terkini adalah tekanan akademik yang sangat tinggi di kalangan Peserta Didiknya. Budaya “exam-oriented education” atau pendidikan yang berorientasi pada ujian membuat banyak Peserta Didik di Cina merasa tertekan karena harus bersaing dalam ujian masuk Perguruan Tinggi yang sangat ketat, yaitu “Gaokao”. Dalam hal ini, Pemerintah Cina mencoba melakukan reformasi untuk mengurangi beban kurikulum dan mengurangi ketergantungan pada ujian sebagai satu-satunya indikator prestasi akademik.
Selain itu, Cina juga menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pendidikan di wilayah perkotaan dan pedesaan. Disparitas pendidikan antara kota besar dan wilayah terpencil menjadi isu penting yang harus diatasi oleh pemerintah. Kebijakan yang lebih inklusif, seperti pengalokasian anggaran lebih besar untuk pendidikan di daerah pedesaan, diharapkan dapat meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di seluruh negeri.
Di sisi lain, Cina juga berfokus pada pengembangan pendidikan vokasi (Kejuruan) untuk mempersiapkan angkatan kerja yang memiliki keterampilan praktis dan siap menghadapi kebutuhan pasar kerja yang dinamis. Ini sejalan dengan kebutuhan revolusi industri 4.0, di mana keterampilan teknis dan penguasaan teknologi digital menjadi sangat penting.
Penghargaan terhadap Profesi Pendidikan atau Guru
Profesi Pendidik atau Guru dihargai di Cina, baik oleh Negara, Orang tua, maupun Peserta Didik. Penghargaan ini ditanamkan tidak hanya dalam bentuk jaminan kesejahteraan, namun juga kebanggaan menjadi seorang Pebdidik atau Guru. Banyak Pendidik atau Guru di Cina memiliki gelar Ph.D dan Profesor dari Universitas ternama seperti Ivy League atau bahkan Oxford dan Cambridge, yang menunjukkan dedikasi mereka dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Pendidik atau Guru dipandang sebagai salah satu kunci utama dalam menciptakan generasi masa depan yang kompeten dan berdaya saing tinggi, dan hal ini mendorong sistem pendidikan di Cina untuk terus meningkatkan kualitas Pendidiknya.
Kolerasi dengan Pengembangan Pendidikan Indonesia
Pepatah ini juga relevan dengan upaya pengembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai salah satu negara yang kini fokus pada peningkatan kualitas SDM, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari berbagai pendekatan pendidikan di Cina, seperti pengembangan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), yang telah terbukti sukses meningkatkan keterampilan kognitif dan inovatif Peserta Didiknya. Selain itu, pembelajaran berbasis teknologi yang diterapkan di Cina juga menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam menghadapi era digitalisasi pendidikan.
Globalisasi memungkinkan Peserta Didik untuk terhubung dan belajar dari Peserta Didik di seluruh dunia.
Di Indonesia, melalui program pertukaran pelajar dan kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan internasional, Peserta Didik Indonesia semakin mudah untuk berpartisipasi dalam pembelajaran global, meningkatkan wawasan dan pemahaman mereka tentang dunia luar (Nizam, 2021).

Di UPTD SMKN 1 Tapalang Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dengan Jargon “Sekolah Modern Penuh Harapan Untuk Masa Depan Cemerlang” juga memiliki Motto : Membangun Kemitraan, Produktif, Highclass dan Sustainable.
Dengan Tagline : “SMK OKE De” atau singkatan dari Program atau Konsentrasi Keahlian yang dibina di sekolah ini yaitu : Otomotif ,Komputer, Elektronika dan Desain Komunikasi Visual disingkat DKV.
Melaunching Penerapan Program 3 (tiga) Sistem :
1) SMK dengan Sistem Tiada Hari Tanpa Praktik Kejuruan; 2) SMK Berbasis “Happy School”; 3) Digital Presence Warga Sekolah.
Sistem Tiada Hari Tanpa Praktik Kejuruan merupakan ciri khas atau karakteristik komprehensif yang dimiliki SMK. Oleh karenanya, Sistem ini dieksekusi dengan segera “Lebih Cepat dan Tepat Waktu, maka itu Lebih Baik.” Sebab hal ini merupakan kebijakan dan kewenangan sepenuhnya yang dimiliki oleh setiap satuan pendidikan dalam mengelola pendidikan yang berkualitas. Sistem ini juga merupakan pembeda Sistem yang berlaku antara SMA dengan SMK.
Standar Kompetensinya yang Berbeda sehingga Prosesnya harus Beda
Kembali Secara Intensif Memahami Pusat Literasi Antara lain : Pepatah “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina” bukan hanya menjadi motivasi untuk belajar sejauh mungkin, tetapi juga memberikan gambaran tentang relevansi pendidikan di Cina dalam konteks global saat ini. Cina telah berhasil mengembangkan sistem pendidikan yang inovatif dan unggul, meskipun masih menghadapi tantangan seperti kesenjangan pendidikan dan tekanan akademik. Indonesia dapat belajar dari pengalaman Cina dalam mengembangkan pendidikan yang berkualitas dan merata, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendidikan di Cina juga menekankan budaya kerja keras dan menghargai profesi guru, yang semuanya berkontribusi pada keberhasilan pembangunan sumber daya manusia unggul.
Referensi :
- Buku “The Frontier of Education Reform and Development in China” (Dandan Guo, ed., diterbitkan oleh Springer pada tahun 2023);
- OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume I) : What Students Know and Can Do. OECD Publishing;
- Zhao, Y. (2014). Who’s Afraid of the Big Bad Dragon? : Why China Has the Best (and Worst) Education System in the World. Jossey-Bass;
- Hu, Y. (2023). “Education Reform in China : Balancing Examination Pressure and Innovation.” Journal of Comparative Education, 58(3), 243-260;
- China Ministry of Education. (2023). China’s Education Modernization 2035.
- Xu, Q., & Li, H. (2022). “The Development of Vocational Education in China: Challenges and Opportunities.” Asian Education Studies, 10(2), 89-102;
- Wang, J. (2023). “The Role of Elite Schools in China’s Education System.” Beijing Education Journal, 12(4), 101-117;
- Rahma Harbani : Hadits Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China, Benarkah Ada? DetikHikmah.com. 2023;
- YM. Sjahrir Tamsi : Meneroka Pendidikan Masa Depan : Tantangan, Peluang dan Transformasi. Wartamerdeka.Info. Mamuju, 2024;
- YM. Sjahrir Tamsi : Urgensi Memahami Soft Skill Dunia Kerja dan Dunia Maya. Wartamerdeka.Info. Mamuju, 2024;
- YM. Sjahrir Tamsi : Membangun Karakter Bangsa : Kreatif dan Inovatif di Era Digital. Wartamerdeka.Info. Mamuju, 2024.
Editor : Usman Laica
